<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mari Bersama Membangun Manusia Berkualitas Melalui Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://id03r.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://id03r.wordpress.com</link>
	<description>Oleh : M. Rudi Januar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Dec 2008 10:26:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='id03r.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mari Bersama Membangun Manusia Berkualitas Melalui Pendidikan</title>
		<link>http://id03r.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://id03r.wordpress.com/osd.xml" title="Mari Bersama Membangun Manusia Berkualitas Melalui Pendidikan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://id03r.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>maaf kami tdk pesan kopi susu, atau coklat, dkk</title>
		<link>http://id03r.wordpress.com/2008/12/06/maaf-kami-tdk-pesan-kopi-susu-atau-coklat-dkk/</link>
		<comments>http://id03r.wordpress.com/2008/12/06/maaf-kami-tdk-pesan-kopi-susu-atau-coklat-dkk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 10:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Rudi Januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id03r.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Seperti kebiasaan setiap harinya, aku bangun tidur, mandi, makan, dan bikin secangkir KOPI SUSU sebagai teman membaca surat kabar harian di rumahku atau bahkan untuk menghilangkan sedikit rasa ngantuk yang masih tersisa. Kebetulan saat itu aku lg asyik baca kolom blogger (www.kayuhbaimbai.org) mengenai keluh kesah salah seorang blogger (http://syamsuddin-ideris.blogspot.com) tentang kondisi jalan didaerahnya. Tokoh dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=23&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id03r.files.wordpress.com/2008/12/lumpur2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-31" title="lumpur2" src="http://id03r.files.wordpress.com/2008/12/lumpur2.jpg?w=300&#038;h=218" alt="lumpur2" width="300" height="218" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Seperti kebiasaan setiap harinya, aku bangun tidur, mandi, makan, dan bikin secangkir KOPI SUSU sebagai teman membaca surat kabar harian di rumahku atau bahkan untuk menghilangkan sedikit rasa ngantuk yang masih tersisa. Kebetulan saat itu aku lg asyik baca kolom <em>blogger</em> (<em><a href="http://www.kayuhbaimbai.org/">www.kayuhbaimbai.org</a></em>) mengenai keluh kesah salah seorang <em>blogger</em> (<em><a href="http://syamsuddin-ideris.blogspot.com/">http://syamsuddin-ideris.blogspot.com</a></em>) tentang kondisi jalan didaerahnya. Tokoh dalam cerita itu adalah seorang pendidik (judul <em>postingan</em> “Oemar Bakrie di Garis Depan”) yang setiap harinya berangkat kerja harus melewati jalan yang konon katanya seperti “Adonan” hehehehe&#8230;&#8230; Setelah selesai membaca <em>postingan</em>, aku meneruskan membaca pada kolom komentar, dan baru sampai pada komentar dari <em><a href="http://pakacil.net/">http://pakacil.net</a></em>, istriku teriak cukup keras seperti halnya orang yang lagi liat hantu atau tumpukan duit trilliunan rupiah bahkan&#8230;.. (tapi biasanya kalau orang liat tumpukan duit kebanyakkan DIAM2 AJA YAH&#8230;???. kalau begitu pas liat hantu aja deh. Red). Pada saat itu kan aku ingat istriku lg mandi, kok bisa2nya dia teriak sangat kencang (apa udah takut mandi yah&#8230;???). setelah aku samperin Dia dengan penuh bertanya-tanya, ternyataaaaaaaaaaaa&#8230;&#8230;.!!!! air di bak mandi rumahku yang tadinya “CUKUP” bening ternyata berubah menjadi “COKLAT SUSU PEKAT”. Aku sih sebenarnya tidak begitu kaget dengan hal itu, tapi kebetulan istriku asalnya bukan dari daerah (Banjarbaru. Red) sini, yah maklum saja dia kaget liat air yang warnanya seperti itu (kalau sungai mungkin dah biasa. Red). Permasalahan lain timbul lantaran Dia belum selesai bilas, dan sekujur badannya masih penuh dengan busa. Mau diterusin bilas dengan menggunakan air tadi yang sudah berubah warna hasil “SULAP” atau mungkin juga hanya sekedar “FENOMENA ALAM” yah jadi agak malas bahkan traumatis untuk Dia, karena kebetulan dua minggu yang lalu Dia baru saja mengalami alergi pada kedua telapak tangan dan kakinya (mungkin akibat campuran KOPI, SUSU, atau COKLAT yang digunakan tersebut sudah kadaluarsa atau bahkan mengandung <em>formalin </em>jangan2&#8230;???). Alhamdulillah untungnya dirumahku masih ada sumur yang dapat diambil airnya, jadinya bisa deh selesain mandinya. Sembari menyiapkan tempat untuk menampung air dari sumur dengan menggunakan ember dan baskom yang sebenarnya digunakan untuk keperluan cuci pakaian (sori Mi, terpaksa) sehari-harinya, aku mencoba berkelakar untuk sekedar menghibur istriku yang kebetulan sedang mengalami <em>homesick</em> berat saat ini. Aku menceritakan kalau hal itu adalah sepele. Aku bilang, jangankan air untuk mandi yang kita bayar tiap bulannya itu yang berwarna COKLAT, tapi disini pantainya pun juga dikasih KOPI, SUSU atau COKLAT juga <a href="mailto:hehehehe.......!@#%$%^$%*&amp;">hehehehe&#8230;&#8230;.!@#%$%^$%*&amp;</a>. Kira-kira kalau kita kasih gula rasanya seperti apa yah&#8230;??? rasa KOPI SUSU atau COKLAT&#8230;??? enaknya sih mungkin simple aja karena tinggal ambil air di bak mandi terus dipanasin sedikit baru ditambahkan gula tanpa susah payah menambahkan KOPI, SUSU, atau COKLAT lagi yang dibeli dengan jalan kaki beberapa ratus meter di warung sebelah hehehhee&#8230;&#8230;&#8230;!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Aku sedikit protes juga pada waktu itu, karena aku harus nguras bak mandi dan mengisinya lagi dengan air yang “CUKUP’ bening nantinya, itupun aku diharuskan bersabar menunggu airnya berubah warna kembali entah sampai kapan hehehe&#8230;.. dan juga kami sekeluarga terus terang “TIDAK SUKA” pakai air yang seperti itu untuk mandi, takut lengket atau bahkan bisa2 malah digerayangi semut (bukan bermaksud “SOMBONG”. Red). Sepengetahuan saya, selama ini kami tidak pernah mengajukan permohonan kepada pihak PeDeAeM didaerahku untuk menambah semacam fasilitas tambahan seperti campuran KOPI, SUSU, atau COKLAT, dkk kedalam air yang akan disalurkan kerumah kami. Kami “CUKUP” bisa minum dan mandi dengan “AIR TIDAK BERWARNA” saja itu sudah sangat menyehatkan bagi kami. Padahal kami sekeluarga juga “TIDAK SUKA” minum KOPI, SUSU, atau COKLAT, dkk (dalam kasus ini. Red) hehehehe&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">MAAF SEKALI LAGI KAMI TIDAK PESAN YA PAK, BU, OM, dan TANTE yang di PeDe aEm&#8230;&#8230;!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Komentar untuk<span> </span><em><a href="http://syamsuddin-ideris.blogspot.com/">http://syamsuddin-ideris.blogspot.com</a> </em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span style="color:red;">Mungkin nasib kita hampir sama Pak, kami juga mengalami hal yang cukup menyedihkan. JANGANKAN UNTUK JALAN, MANDI SAJA KAMI SUSAH. Bagaimana mungkin mau keluar jalan kalau tidak mandi (mungkin saja sih. Red), tapi kalau tidak GOSOK GIGI gimana dong&#8230;??? untungnya saya pengangguran nih saat ini, jadi tidak perlu keluar2 rumah dulu dan yang tau cuma Allah SWT, kami sekeluarga, dan teman2 yang baca postingan ini (syuuutzzz jgn bilang2 yah&#8230;&#8230;.!!!) </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/id03r.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/id03r.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=23&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id03r.wordpress.com/2008/12/06/maaf-kami-tdk-pesan-kopi-susu-atau-coklat-dkk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/350ace6fa542bcb99cec9312391b5dbd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">id03r</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://id03r.files.wordpress.com/2008/12/lumpur2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">lumpur2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suku Banjar Dan Ragam Budayanya</title>
		<link>http://id03r.wordpress.com/2008/01/25/suku-banjar-dan-ragam-budayanya/</link>
		<comments>http://id03r.wordpress.com/2008/01/25/suku-banjar-dan-ragam-budayanya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 06:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Rudi Januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[asal usul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id03r.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kotabaru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=10&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kotabaru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.</span><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Banjar Pahuluan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah denga keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Banjar Batang Banyu</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Banjar Kuala</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju, yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Penyebaran suku Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Banjar adalah suku bangsa yang berasal dari Kalimantan Selatan. Migrasi suku Banjar ke Kalimantan Timur terjadi pada abad XV yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Sedangkan migrasi suku Banjar ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma. Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman. Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak, Selangor, Johor dan juga negeri Sabah. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian, Negeri Perak Darul Ridzuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bubuhan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu) dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa bubuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Pengislaman bubuhan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku bangsa Melayu -yang menjadi inti masyarakat Banjar-memasuki daerah ini ketika dataran dan rawa-rawa yang luas, &#8211; yang saat ini membentuk bagian besar Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah-masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku bangsa Melayu ini,- dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Pemerintahan bubuhan tempo dulu</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu. <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang berwibawa pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama. Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan demikian, dapat kita nyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesar kerajaan (baca:mantri-mantri).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung) tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk kegunaan lain, lihat Banjar (disambiguasi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kabupaten Banjar adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.228 km² dan berpenduduk sebanyak 411.901 jiwa (2000).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku bangsa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Banjar: 361.692 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Jawa: 29.805 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Bugis: 828 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Madura: 13.047 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Buket: 1.737 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Mandar: 17 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Bakumpai: 34 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Sunda: 1.187 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lainnya: 3.554 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Sumber: Badan Pusat Statistik &#8211; Sensus Penduduk Tahun 2000)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Banjarmasin</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Jumlah penduduk di kota ini adalah sebanyak 527.250 jiwa (2000).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kota Banjarmasin dibelah oleh sungai Martapura dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tanah aluvial yang didominasi struktur lempung adalah jenis tanah yang mendominasi wilayah kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metamorf yang bagian permukaannya ditutupi oleh krakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Suku bangsa</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku bangsa di kota ini antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Banjar: 417.309 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Jawa: 56.513 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Bugis: 2.861 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Madura: 12.759 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Buket: 7.836 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Mandar: 105 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Bakumpai: 1.048 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suku Sunda: 2.319 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lainnya: 26.500 jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Sumber: Badan Pusat Statistik &#8211; Sensus Penduduk Tahun 2000)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">DAFTAR LAGU BANJAR:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>A</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Adat Kawin &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ading Bastari -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ading Sayang &#8211; voc./cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ala Ahai &#8211; Cipt. Syachruddin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Amas Mirah -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ampar-Ampar Pisang &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ampat Lima &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Anak Pipit &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Apo Kayan &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Asam Pauh Dalima Pauh &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Atang Balain -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>B</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Badatang &#8211; Cipt. Arina Group, voc. Abdul Ghani Samatha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Badatang &#8211; voc./cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Badindang Ligun &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bagasing Balogo &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahambur Kambang &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahuma Surung &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bajanji Hati voc. Santa Hoky</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Balauk Mandai Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Balikpapan &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Balisah &#8211; Cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bamalaman Manjatu Manggis &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Banua Lima -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Banua Permata ciptaan Hamka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bapukung Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Barambangan -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Basyariat voc. Novariana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Batasmiyah Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Batimung &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Batulak Madam -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Beras Kuning &#8211; Cipt. Rasni &#8211; Dino</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bismillah Kata Bamula &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bis Bintang Mas &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Boneka Cinta &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Buah Rambai &#8211; (lagu Kaltim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bulan Kabus &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Buruk Sikuan &#8211; voc. John Tralala</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Busu &#8211; Cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>C</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cagar Batatai &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cinta Kasih &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cinta Marikit di Kotabaru -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cinta Tapatri &#8211; Cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cuk Cuk Bimbi -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Curiak &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>D</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Damar Dua &#8211; Cipt. A. Thmarin voc. Mila Karmila</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Damarwulan &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dandaman Banua &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dandaman Bulan Suci -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Danding -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dayung Asmara &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dayuhan wan Intingan -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Diang Galuh Banjar -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Diang Kakamban Kuning &#8211; voc./cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Diang Katinting &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di Banua Urang &#8211; Cipt. Farhan N</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di Hunjuran Mahakam &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di Panajam Kita Badapat &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Do&#8217;a Gasan Uma &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>E</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>F</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>G</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Gakuh Langkar Bapupur Bangkal &#8211; cipt. Ariyanti / MS. Syailillah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Galuh Permata Hirang -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Galuh Pangambangan -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Gingsi &#8211; voc. / cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Giwang Dua &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>H</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Halin -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Harta Warisan &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Hura Ahui &#8211; cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>I</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Intan Marikit &#8211; cipt. Agit Kursani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Imah Galapung &#8211; voc. John Tralala</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>J</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jalinan Cinta &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jangan Malandau &#8211; voc. Emma Rahman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Japin Rantauan &#8211; cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jasa Uma &#8211; cipt. Hamka, voc. Arif Maulana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jawaban Karindangan &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jimat Japang &#8211; voc / cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jimus Barata &#8211; cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>K</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada Kasampaian &#8211; voc./cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada Parcaya &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada Sakapur Sirih &#8211; cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaganangan &#8211; cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaganangan Waktu di Pantai &#8211; cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kakamban Habang &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kamana Hilangnya &#8211; voc. / cipt. Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kambang Goyang &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kambang Barenteng &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kambang Ilung &#8211; cipt. H. A.A. / Ayamudin Tifani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kambang Jaruju -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kampungku -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kapal Gandengan Taksi &#8211; voc. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karindangan &#8211; cipt./voc. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karindangan &#8211; voc. Emilia Borneo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karindangan &#8211; cipt. Ariyanti/ MS. Syailillah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karindangan 2 &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karindangan Supan Bapadah -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kasasahangan &#8211; cipt. Hamka, voc. Arif Maulana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kasih Kada Kasampaian _</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ke Pulau Kembang -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kilau Utas &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kisah Kelabu &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kuta Martapura &#8211; voc./cipt.Khaidir Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>L</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Latifah &#8211; cipt. H. A.A. / Ayamudintifani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lagu Dua &#8211; cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lalan Tirik &#8211; cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamun Datang Itu Lagu &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lasung Balenggang &#8211; ipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>M</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Maampar Sajadah &#8211; cipt. Hamka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Maayun Anak Cipt. Syarifuddin, MS / Drs. Nasrullah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Madihin Dangdut &#8211; voc. Ellen</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mahadang Ading &#8211; voc. Triyuni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ma-Iwak &#8211; Cipt. Taboneo Group/ H. A.A</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Malandau -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mambari Maras &#8211; (lagu Kaltim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mandung-mandung -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manuntut Janji &#8211; cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Marista &#8211; cipt. A. Hamid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Maronca-ronca &#8211; voc. Rina / Helda</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mausung Janji -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Minta Ikatan &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Musik Panting &#8211; cipt. Sayrifuddin, MS / A.W. Syarbaini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>N</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nanang Galuh -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nasib Si Pandukuhan &#8211; cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nasib Tambangan &#8211; cipt. S. Salfas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nyanyian Sungai ciptaan Hamka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>O</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Oh Dimapa &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Oto Biru &#8211; cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>O Kaka O Kiki -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>P</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pagat Kasih &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pagat Larangan &#8211; Voc. Dedi Arman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Palihara Tanah Banyu &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS / Ian Emti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pambatangan -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Papadah &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pangeran Suriansyah &#8211; voc. / cipt. H. Anang Ardiasyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Panginangan &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Panjang Balikat -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Panjarat Hati &#8211; ciptaan Hamka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pantun Cinta &#8211; Cipt. Hamidhan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pantun Papadah &#8211; Cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Paris Barantai &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Penari Gandut &#8211; cipt. Hamka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pesta Pantai Pagatan &#8211; cipt. Hamka, voc. Meggy Z</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pucuk Pisang &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Puhun Rambai &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Purunnya &#8211; Cipt. Syachruddin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Putri Junjung Buih &#8211; cipt. Hamka, voc. Meggy Z</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>R</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rabah Bangun &#8211; voc. Solid AG</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ranjang Wasi &#8211; cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Banjar &#8211; cipt. Rustam R</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Raja Egal &#8211; cipt. Hamka,voc. Arif Maulana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rosalinda &#8211; voc. Solid AG</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>S</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sabarai-sabarai &#8211; (lagu Kaltim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Salbiah &#8211; Cipt. Arina Group</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Samagin Baliur -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sambal Raman &#8211; Cipt. H. A.A.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sangu Batulak &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sapu Tangan Babuncu Ampat &#8211; Cipt. Zaini / Taboneo Group</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sanja Kuning &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saruan Sakampung &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sarung Samarinda &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Siapa Ampun Larangan &#8211; Cipt. H. Anang Ardiansyah voc. Sam Chandra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sisigan Sungai &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sisip &#8211; Cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sirih Kuning &#8211; Cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sudah Taparukui- cipt. Yusni Badaruddin / Doddy</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sungai Martapura &#8211; Cipt. Syarifudin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suanang &#8211; Cipt. Arina Group</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>T</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takajut Rami &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talambat Badatang &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talanjur &#8211; Cipt. Syarifuddin, MS / Sanderi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tali Wasi &#8211; Cipt. NN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tanda Babakti &#8211; Cipt. Nanang Irwan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tapin Wisata &#8211; Cipt. Listiadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarminah &#8211; Cipt. Hamidan Asli</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari Bagandang &#8211; Cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarimakasih &#8211; Cipt. Mas&#8217;ud</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tatangis &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Taungut &#8211; Cipt. Musik Panting Cempaka Putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tirik Lalan -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>U</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ujar pang kada bamasak -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Uma Abah -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Umpat Bis Bintang Mas &#8211; cipt. Anang ardiansyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>W</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Watas Penantian &#8211; voc. Astiyan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Y</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Yun Apan Yun Nana &#8211; Cipt. Hamiedan AC</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Rumah Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Definisi</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Jenis-jenis Rumah Adat Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jenis- jenis rumah adat Banjar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Bubungan Tinggi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Gajah Baliku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Gajah Manyusu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Balai Laki</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Balai Bini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Palimbangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Palimasan (Rumah Gajah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Tadah Alas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Lanting</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Joglo Gudang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Bangun Gudang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>SEJARAH DAN PERKEMBANGAN RUMAH ADAT BANJAR</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596 – 1620.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tampak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Akan tetapi sekarang dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sejak tahun 1930-an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk daerah Kalimantan Selatan masih dapat dijumpai beberapa rumah adat Banjar yang sudah sangat tua umurnya seperti di Desa Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut (Kota Banjarmasin), Desa Teluk Selong, Desa Dalam Pagar (Martapura), Desa Tibung, Desa Gambah (Kandangan), Desa Birayang (Barabai), dan di Negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masing-masing rumah adat tersebut sudah dalam kondisi yang amat memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut karena alasan-alasan tertentu , seperti malu atau gengsi. Karena merasa dianggap tidak mampu merawat rumahnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bagaimanapun keadaan rumah-rumah tersebut, dari sisa-sisa yang masih bisa dijumpai dapat dibayangkan bagaimana artistiknya bangunan tersebut yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>KONSTRUKSI RUMAH ADAT BANJAR</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu : a. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk. b. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung. c. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi. d. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit. (yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Panampik Kacil, yaitu ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui lawang hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>3. Panampik Tangah yaitu ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>4. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>5. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>6. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>7. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tata Ruang dan Kelengkapan Rumah Tradisonal Banjar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>TATA RUANG DAN KELENGKAPAN RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi menjadi surambi muka dan surambi sambutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu (dapur).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan kelengkapannya;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Surambi</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Pamedangan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung, pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan tarumpah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Paluaran (Panampik Basar)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan Paledangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas, parapen, rehal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Paledangan (Panampik Panangah)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa &#8211; Anjung Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap, kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Anjung Kanan &#8211; Anjung Kiwa</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Padu (dapur)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit dan ayunan anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Museum Lambung Mangkurat &#8211; Banjarbaru, &#8220;Rumah Tradisonal Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya&#8221;, 1992/1993)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>BAGIAN DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Pondasi, Tiang dan Tongkat</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Kerangka</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah : 1. susuk dibuat dari kayu Ulin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Gelagar dibuat dari kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>3. Lantai dari papan Ulin setebal 3 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>4. Watun Barasuk dari balokan Ulin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>5. Turus Tawing dari kayu Damar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>6. Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>7. Balabad dari balokan kayu Damar Putih. Mbr&gt; 8. Titian Tikus dari balokan kayu Damar Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>9. Bujuran Sampiran dan Gorden dari balokan Ulin atau Damar Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>10. Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>11. Kasau dari balokan Ulin atau Damar Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>12. Riing dari bilah-bilah kayu Damar putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Lantai</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Dinding</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Atap</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Ornamentasi (Ukiran)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Museum Lambung Mangkurat &#8211; Banjarbaru, &#8220;Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya&#8221;, 1992/1993)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[sunting]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>CARA MENENTUKAN UKURAN RUMAH ADAT BANJAR</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Menurut Brotomoeljono (1986 : 87); </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>A. Panjang dan lebar rumah ditentukan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>B. Dihitung dengan mengambil gelagar pilihan, kemudian dihitungkan dengan perhitungan gelagar, geligir, gelugur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga harus ditutup dengan gelagar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87) Cara lain menurut Alfani Daud, MA. (1997 : 462);</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ukuran panjang dan lebar rumah dilambangkan delapan ukuran lambang binatang yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing, keledai, atau gagak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Jumlah) panjang depa seseorang yang membangun rumah dibagi delapan mewakili binatang berturut-turut seperti tersebut terdahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Tiap depa dikalikan 12)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Alfani Daud, MA, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997 : 462)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[sunting]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>FILOSOFI RUMAH BUBUNGAN TINGGI</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Siswono Yudohusodo)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Bahasa Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di propinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain. Bahasa Banjar dihipotesakan sebagai bahasa proto Malayik, seperti halnya bahasa Minangkabau dan bahasa Serawai (Bengkulu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur,juga digunakan di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, dimana bahasa ini dipakai sebagai bahasa penghubung antar suku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahasa banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bahasa Banjar terdiri atas dua kelompok dialek yaitu;</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahasa Banjar Hulu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bahasa Banjar Kuala</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa-bahasa di Kalimantan lainnya.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Maanyan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>warik (Banjar), warik (Dayak Maanyan), varika (Merina-Madagaskar); artinya monyet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>bamban (Banjar), wamban (Dayak Maanyan), bumban (Dayak Siang Murung); artinya nama sejenis tanaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>lumbah (Banjar), lombah (Dayak Ngaju); artinya luas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>umpat (Banjar), umba (Dayak Bakumpai); artinya ikut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>busu (Banjar), busu (Dayak Ngaju); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>aray (Banjar Hulu), aray (Dayak Bakumpai); artinya senang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>babaya (Banjar), babaya (Dayak Bakumpai); artinya hampir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>diang (Banjar Hulu), diang (Dayak Bakumpai); artinya anak dara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Bukit</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bahasa Banjar vs Bahasa Kutai</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>muntung (Banjar), moncong (Kutai); artinya mulut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Perbandingan Bahasa Banjar dengan Bahasa Jawa</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>hanyar (Banjar), anyar (Jawa); artinya baru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus) untuk Dewa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya lambai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya&#8230;(contoh pernah mantu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Tari Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Definisi</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari Banjar adalah seni tari yang dikembangkan oleh suku Banjar, baik berupa tari klasik maupun tari tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Jenis-jenis Tari Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari klasik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari tradisonal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bagandut</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baksa Dadap</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baksa Kembang</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baksa Lilin</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan membawa lilin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baksa Panah</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan memanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baksa Tameng</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan tameng (perisai).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Balatik</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Latik artinya tunas, balatik artinya bertunas. Tarian ini menggambarkan tumbuhnya tunas-tunas muda seniman tari Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Baleha</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Batarasulan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Bogam</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bogam adalah rangkaian bunga mawar dan melati. Tarian ini merupakan tari selamat datang dengan mempersembahkan kembang bogam kepada para tamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Dara Manginang</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarian ini menggambarkan anak dara yang sedang menginang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Garah Rahwana</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarian yang menggambarkan sifat antagonis tokoh Rahwana dalam wayang Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Hantak Sisit</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Hanoman</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarian yang menggambarkan tokoh Hanoman pada cerita Ramayana dalam wayang Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Batuah</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu, semua penari adalah wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Bujang Marindu</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Dua Saudara</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tarian yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan budaya Melayu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Hadrah</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang mengangkat kesenian Hadrah ke dalam gerak tari yang dinamis, semua penari adalah wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Pasanggrahan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dengan semua penarinya adalah wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Rantauan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Japin Sisit</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Kuda Gepang</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari prajurit berkuda (kavaleri), merupakan pengaruh budaya Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Ladon</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ladon merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Ning Tak Ning Gung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari dolanan anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Paris Tangkawang</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Radap Rahayu</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan tari klasik Banjar dalam menyambut tamu agung dan ditarikan dalam upacara perkawinan, para penarinya adalah wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Rudat</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi duduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Sinoman Hadrah</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Tameng Cakrawati</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tari yang menggambarkan seorang isteri (Cakrawati) yang melanjutkan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Tirik Lalan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari tradisional berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Topeng Kelana</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari topeng dengan tokoh Kelana, tari ini merupakan pengaruh budaya Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>Topeng Wayang</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Merupakan jenis tari berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:14pt;">Peribahasa Banjar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF K</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kabanyakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kabanyakan guring awak kurus karing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kabanyakan rangka, habis kada sahama-hama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kacil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kacil mulik sasak di lawang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ada buriniknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ada kukus amun kada ada api</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ada nang dikutil-kutil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ada urang nang bajual di pasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ada urat tulangnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada bahabu dapur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada balampu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada baliur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada batanah sajari-jari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada batanam nyiur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada ingat burit kapala</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada jadi baras</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada karing gigi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kauluran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kaya paku lantak di papan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kawa dikulai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kulih kiwa kanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mamak dijarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mambadai lawan kaluung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mambuang taruh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mau balabih urat tulang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mayu parutnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada mayu tangannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kaya mamamah lumbuk balalu padas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada paparakan hujung kukunya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada purun tikus, matan purun banar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada tacampur minyak lawan banyu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada tadangar garacak piring</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada takulihi mintuha lalu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada titik banyu diganggam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada wayah dipawayah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kajam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kajam pada Japang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>kalawasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kalawasan mahadang, imbah Ahad, Ahad pulang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kalimbuai pusing kiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kalibatan tali gasing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaminting pidakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kana gatahnya haja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaning kaya ditulis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kantutnya gin sumbang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kantut samut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kapala bapa ikam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kapala manyuruk buntut mahambat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kapala sama babulu, otak lain-lain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karas-karas karak, limbah dibanyui lamah jua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karing pada kalaras</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kasasahangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Katahuan habang hirangnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kawa dicaramini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya api dikubui banyu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya api dikubui minyak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya bisul maangkut nanah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya bubut lawan kasisikat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya Bukit turun ka kuta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya baburak kalingaian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya cacing kapanasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya cacing panggal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya Cina kakaraman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya Cina kahilangan dacing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya daun tarap gugur parapas-parapas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya Dayuhan lawan Itingan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya gadang buruk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya hantu Barabiaban</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya hayam jagaunya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya hayam saungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya ingkul Inggris</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya iwak kana tuba</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya kalayangan pagat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya karacak ayam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya kucing malihat tikus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya kucing marau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya latupan cabi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya maling kasiangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya mancabut kasusuban</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya manimbai batu ka banyu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya manjuhut rambut di galapung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya muak kucing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya pinang dibalah dua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya punai kakanyangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya siput dipais</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya tandui dilumu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya tikus kahujanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya tiwadak dihantak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya ular baganti salumur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya urang imbah baranak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya urang kalah pamainan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya urang kasarungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya warik tagapit dahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya warik tajun ka kacang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kikik-kikik burung maling</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kilat dalam banyu gin pinandu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kuduk kada mati ular kada kanyang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kudung hanyar hanyar bautas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kujub-kujub kaya mata bidawang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kula-kula buhaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kukulilik di luang satu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kulik-kulik bunyi halang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kulimbit mati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kulu sipatin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kumpai mangalahakan banua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kurihing simpak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kur sumangat, hilang panyakitnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kuriding patah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kurang hantak kurang surung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF L</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lagu nang kaya pingkalung sangkut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lain danau lain iwaknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lain nang disurung lain nang dikalang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Laju pada trak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lalat mancari kudis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamah bulu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamah limbai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamak mungkal kaya iwak lampan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lambat mambalik talapak tangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lambat mambanam kapas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamun dirandam ka sungai mauk saluang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamun garing, awu mantah gin kada tamakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lamun kawan naik jangan dipiruhuti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Langkang pipi amun tatawa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lancar bapandir bahira maucir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lapah manggutak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lapas di muntung harimau, masuk ka muntung buhaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lindung kucing baduduk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lingis kaya dijilat naga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Liur baungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Luka kana bidingnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF M</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mahadang buah bungur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mahambat kalaras karing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Maitung kasau di bubungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Makin tuha makin baminyak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Malatui kana dahi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Malingus di hadapan mintuha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mamasang kulah di karing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mambawa bala ka rumah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mambawa jari sapuluh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mamuji pakasam saurang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mana manyatang, mana manyatupur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mananam haur tumbuh batung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manangguk di banyu karuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manapak banyu di apar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manapak muha saurang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manapas muha mintuha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manarik paring matan di hujung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manangis kada babanyu mata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mancaluk padaringan urang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mancari suluh tajajak hundayang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mancari bagandang nyiru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manis mangurung madu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manimpasakan parang urang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manggaru kapala nang kada gatal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manyambung puntung handap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manjilat ludah dilantai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Manurutakan kahandak kada ada habisnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mata kaya mata maling</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Muha kaya gambar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Muha kaya panai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF N</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Naik di kapuk turun di hanau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Naik di pinang turun di hanau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nangapa ujar sidin haja, manurut maka kada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nang kaya burung, imbah kanyang tarabang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nang kaya apa sakira nyaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nang manis jangan lakas ditaguk, nang pahit jangan lakas diluak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nang sakilan jadi sadapa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nasi sabigi satahun hanyar ada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nasi sabigi gin kada tataguk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ngalih mambuang batu di palatar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF P</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Paaliran disambar buhaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pahabisan burung babunyi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Paku mahadang tukul</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Panas-panas tahi hayam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pamali duduk di watun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pandir kaya buak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pantas haja ari pina sahujan-hujan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pina paiyanya, imbah tapadupak pandahuluannya bukah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pisang kada babuah dua kali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pitung Rajab mahadang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF R</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Raja bigi kapuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rambut kaya mayang maurai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rambut kaya sagar hanau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Rusak mulai di rapun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF S</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saatiril</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sabuku gunung, saikung dangsanak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sagantang dua gantang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sahibar umpat bapandir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saikung-ikung kada mawadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saikung hadangan bakuang, samunyaan kada lucaknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sajampal tiga suku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sakahandak mambalang, mintuha bajual kasumba</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sakurang-kurang buhaya, banyu nang malamasakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Salapik sakaguringan, sabantal sakalang hulu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sandu-sandu bakut, amun maluncat limpua hampang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sangkut di gigi, kada ka parut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sapuluh kali batang batindih, bilungka jua nang rimiknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Satabul nang kada diganang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Satali tiga uang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Satu karja dua gawi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Siang bapanas, malam baambun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Siapa manabuk luang, inya saurang nang tabarusuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sasingut mahulu pisau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Suara kaya bunyi burung bubut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sudah bahatap sing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sudah banyak makan uyah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sudah tamakan tarasai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sudah tamulai basah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sukuram datang siang,jaka malam basuluh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Surung kiwa, sambut kanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF T</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Taambil kaminting gumpa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tabang nani rabah ka natu, tabang natu rabah ka nani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tabawa bkul buntus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tabuati jukung miris</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tacalubuk ka padang licak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Taduduki bara api</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tagatuk sarang kararawai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tahadapi nasi tambah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tahalang tabujur disurung sidin haja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tahan mamanasi kulit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tahuai inya pintar, tagal kami kada katuju</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tahi mata kaya tungku dapur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takacak bara api</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takana daging saurang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takujihing muntung sidin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takujingat hidung sidin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takurihing sampai ka talinga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takurung balak anam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talangkahi dangsanak tuha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talalu harp tatiharap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talalu pilih, tapilih bangkung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talalu puji takujiji</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talalu runding takujihing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talinga kaya kijing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Talinga rinjingan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tali salawar tajarat mati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tamakan daging kulanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tamakan pangalih kawan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tampulu jadi raja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tanah kada rata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tanggiling maunduh paring, disambat ngaran gugur mandabuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tapakai kacamata kaur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tapalit tahi babau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tapuruk salawar handapku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tapuruk salawar mintuha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Taranjah garubak bagana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tasisit bigi palir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tatajun ka sumur karing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tatukui lukah puang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Timbul tinggalam kulabuni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tinggali ular nang tadudi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tumbuh kapuk di bantal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tumit kaya hintalu dibasuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tungau di subarang kalihatan, gajah di dahi talindung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tunggul gin amun dipupuri bungas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Turun hayam naik hayam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF U</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>umpat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Umpat di batang timbul</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Umpat mambuat baras</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Umpat nang manang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>untung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untung kada picak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>upung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Upung mamadahi mayang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>urang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Urang mangantuk disurungi bantal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Urang manyurung tungkat, inya manyurung galagar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Urang-urangnya makan sabun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Urang tuha jangan diulah papainan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>HURUF W</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>wadai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wadai Dua Kali Sakit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wadai Sasangga Laung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wadai Tupi Waja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>waja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Waja Sampai ka Puting</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>wajik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wajik Tu, Baiwak La Ngul</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>waluh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Waluh Bajarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>wani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wani Manimbai Wani Manajuni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>wastu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wastu Sabutingannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Sumber: Drs. Syamsiar Seman dan H. Ahmad Makkie, Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Banjar, Jilid 2 huruf K &#8211; W, oleh Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 1998)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[sunting]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>PERIBAHASA DAN UNGKAPAN BANJAR LAINNYA</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Awak asa ripu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kada kalah tadah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya saluang mudik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kaya kalimpanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kupiah haja putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Takatil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Urang nang badahi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wani Hangit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ngalih mambuang batu di palatar ngalih maubah laku nang sudah mandasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[sunting]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span>KARAKTERISTIK BENTUK, FUNGSI, MAKNA DAN NILAI PERIBAHASA BANJAR</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Budayawan Kalimantan Selatan yaitu Tajuddin Noor Gani, SPd, MPd, telah mengarang sebuah buku berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar. Dalam buku setebal 395 halaman tersebut, beliau memaparkan tentang karakteristik bentuk, fungsi, nilai dan makna atas 165 buah peribahasa banjar yang sudah dikenal di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Karya beliau ini merupakan kepedulian terhadap salah satu kekayaan lokal genius etnis Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Beberapa peribahasa yang dikumpulkan oleh Tajudin Noor Gani, antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ada kada malabihi, kada ada kada mangurangi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Maksudnya : seseorang yang keberadaannya tidak mempunyai arti apa-apa)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Adat urang main, ada kalah ada manang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Maksudnya : kalah dan menang dalam suatu permainan adalah biasa)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Allahu wahdah; Inya mambari kada bawadah, Inya maambil kada bapadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>(Maksudnya : Allah memberi tanpa batas dan Dia mengambil kembali tanpa harus bicara)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:14pt;">KALIMANTAN SELATAN</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:14pt;">Geografis<span>   </span></span></b></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:14pt;">Letak Geografis</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 Km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2003 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Secara rinci luas wilayah dan batas wilayah serta panjang garis pantai dapat dilihat pada tabel 1</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:14pt;">Seni dan Budaya</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><b><span>Musik, teater tradisional dan wayang</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><span>Musik Panting</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Musik Kurung Kurung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mamanda (teater tradisional)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wayang Kulit Banjar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wayang Gong (wayang orang)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/id03r.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/id03r.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/id03r.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/id03r.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=10&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id03r.wordpress.com/2008/01/25/suku-banjar-dan-ragam-budayanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/350ace6fa542bcb99cec9312391b5dbd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">id03r</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>What’s wrong with this nation?</title>
		<link>http://id03r.wordpress.com/2007/06/18/what%e2%80%99s-wrong-with-this-nation/</link>
		<comments>http://id03r.wordpress.com/2007/06/18/what%e2%80%99s-wrong-with-this-nation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 11:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Rudi Januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[asal usul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id03r.wordpress.com/2007/06/18/what%e2%80%99s-wrong-with-this-nation/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: M. Rudi Januar[1] Tanggal 16 Agustus yang lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan nota keuangan RAPBN 2007. Pidato Kenegaraan yang belakangan kontroversi seputar angka kemiskinan yang dinilai banyak pihak sebagai upaya pembohongan terhadap publik. Ada yang luput dari sorotan publik, yakni pemenuhan anggaran pendidikan minimal duapuluh persen sebagaimana diamanatkan Konstitusi [Pasal 31 Ayat (4)]. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=4&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span><font face="Times New Roman" size="2"><span><font size="3">Oleh: M. Rudi Januar</font><a href="http://id03r.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a></span><span><font size="3"> </font></span><span><font size="3">Tanggal 16 Agustus yang lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan nota keuangan RAPBN 2007. Pidato Kenegaraan yang belakangan kontroversi seputar angka kemiskinan yang dinilai banyak pihak sebagai upaya pembohongan terhadap publik. Ada yang luput dari sorotan publik, yakni pemenuhan anggaran pendidikan minimal duapuluh persen sebagaimana diamanatkan Konstitusi [Pasal 31 Ayat (4)]. Dalam Nota RAPBN 2007 anggaran pendidikan hanya dianggarkan sebesar 53 Triliyun (Kompas,23/8) atau sekitar sepuluh persen belanja negara. Mau dibawa kemana bangsa ini, jika konstitusinya tidak hendak dipatuhi oleh para pemimpinnya.<b> </b></font></span><span><font size="3">What’s wrong with this nation? </font></span></font></span><span id="more-4"></span><span><font face="Times New Roman" size="2"><span><font size="3">Pertanyaan ini telah diajukan Sudijarto, Koordinator Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) sejak 1998 dan belum ada jawaban memuaskan sampai saat ini. Pidato Presiden mengajak kita untuk mengingat kembali sepenggal kisah dimasa terjadi persaingan sengit dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US). Pada tahun 1957, ketika AS mengetahui kemajuan teknologi pesawat ruang angkasa US bernama SPUTNIK, seorang senator AS, John F. Kennedy berkata what’s wrong with Amarican classroom? Pertanyaan tersebut sangat mempengaruhi pendidikan, terutama science dan mathematics, serta pendidikan guru yang membawa pengaruh terhadap dominasi AS di bidang IPTEK dan Ekonomi sampai sekarang.<span>   </span></font></span><span><font size="3">Hal yang kontras terjadi di Indonesia, meski hasil amandemen keempat UUD 1945 sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam pasal 31 ayat (4) dinyatakan “Negara memperioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya duapuluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan belanja daerah untuk menemuni kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.” Sampai akan berakhir pelaksanaan APBN tahun 2006, alokasi 20% belum terwujud. Mirisnya, yang tidak bernafsu memenuhi amanat Konstitusi dimulai dari level tertinggi, pemerintah pusat. Sepertinya kita harus bersiap menerima apologi pemerintah bahwa pemerintah tidak dapat di-impecment karena melanggar UUD pasal 31 ayat (4) sebab parlemen (DPR RI) juga telah menyetujui hal itu, seperti yang pernah diucapkan Wakil Presiden beberapa waktu lalu.</font></span><span><font size="3">Mencari jawaban atas pertanyaan di atas berarti menggugat peranan negara dalam layanan pendidikan. Menurut Sakban Rosidi (2006) dalam hal ini, pendidikan dipandang sebagai dua jenis urusan barang dan jasa, yakni sebagai barang dan jasa pribadi (private matters, goods, and services) dan barang dan jasa publik (public matters, goods, and services). Lazimnya penyelesaian masalah pribadi diserahkan pada pribadi yang bersangkutan dan mekanisme pasar. Sedangkan penyelesaian masalah publik, menjadi kewajiban publik atau kewenangan negara. Kebijakan pemberian subsidi Biaya Operasional Sekolah (BOS), misalnya menegaskan bahwa pendidikan merupakan layanan publik. Sebaliknya, terjadinya perlombaan besar-besaran berbagai biaya pendidikan yang harus dibayar oleh peserta didik, pesatnya pertumbuhan pendidikan internasional, mengesankan bahwa pendidikan adalah layanan pribadi yang mutu dan harganya diserahkan kepada mekanisme pasar. </font></span></font></span><!--more--><span><font face="Times New Roman" size="2"><span><font size="3">Fenomena di atas merupakan perwujudan kegamangan komitmen politik pemerintah memposisikan pendidikan, antara barang dan jasa pribadi atau publik<span>  </span></font></span><span><font size="3">Mesti disadari bersama, dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia peranan negara sangat luas, meliputi seluruh aspek kehidupan negara-bangsa &#8212;baik politik, ekonomi, sosial, budaya, tidak seperti di Amerika<span>  </span>Serikat, dimana peranan negara meliputi aspek politik saja. Dilihat dari Konsitusinya, Indonesia menganut prinsip negara kesejahteraan (welfare state). Memang tidak mudah bagi pemerintah unutk berkomitmen pada pendidikaan saat ini. Sementara pemerintah dituntut masyarakat menampilkan hasil nyata dan cepat karena masyarakat tidak kuat lagi menahan penderitaan, dan boleh jadi gaya masyarakat yang sudah serba pragmatis. Di lain sisi, pemerintah harus memenuhi komitmen (janji) terhadap orang-orang yang banyak membantu untuk mencapai puncak kekuasaan.</font></span><span><font size="3">Kesulitan apapun bangsa yang dialami bangsa mestinya tidak menjadi alasan bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mengalihkan komitmen dari pendidikan. Pengalaman Jepang adalah cerminan sesuai bagi bangsa ini. Seperti dikisahkan Michio Nagai <span> </span>(1993: 225-235), untuk menjadi negara maju Jepang memilih berkomitmen pada pendidikan. Sebagai negara yang hancur akibat kalah peran dunia II, dengan SDM dan SDA sangat terbatas dan ditambah lagi harus menanggung kerugian negara-negara yang pernah diperangi. Dalam waktu kurang dari setengah abad Jepang mampu menjadi negara disegani. Dengan berpegang pada pendapat Rudolf Van Gneist (1816-1895) bahwa “pendidikan adalah masalah publik yang harus ditempatkan di bawah bimbingan pemerintah”, pengutamaan pada pendidikan keterampilan secara konsisten dan progresif. Pilihan ini dilakukan dengan pertimbangan pendidikan keterampilan diperlukan demi kesuksesan kebijakan nasional dan mempertahankan status quo, dan penyediaan jaminan kerja bagi kelas menengah [*].</font></span><span><font size="3"> </font></span></font></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<hr align="justify" size="1" width="33%" />
<div align="justify"></div>
<p style="text-indent:1cm;text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText" align="justify"><font face="Times New Roman" size="2"><a href="http://id03r.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></span></a><span>Penulis adalah mahasiswa Program Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/id03r.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/id03r.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/id03r.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/id03r.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=4&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id03r.wordpress.com/2007/06/18/what%e2%80%99s-wrong-with-this-nation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/350ace6fa542bcb99cec9312391b5dbd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">id03r</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu Guru</title>
		<link>http://id03r.wordpress.com/2007/06/16/hello-world/</link>
		<comments>http://id03r.wordpress.com/2007/06/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jun 2007 12:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Rudi Januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[asal usul]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menjalankan profesinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=1&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menjalankan profesinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi juga harus mampu menanamkan suatu nilai – nilai pendidikan dengan guru sebagai modelnya.<br />
Dalam menjalankan profesinya, seorang guru harus melakukan dua fungsi sekaligus yaitu; fungsinya secara moral yang mana ia diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dan juga menjalankan fungsi kedinasannya yaitu mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa.<span id="more-1"></span><br />
Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar – mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan SDM yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu, Guru yang merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. Oleh karena itu menurut saya, Guru tidak semata – mata sebagai pengajar yang melakukan  transfer of knowledge, akan tetapi juga sebagai “pendidik” yang melakukan transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Berkaitan dengan masalah ini, sebenarnya Guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks didalam proses belajar – mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang dicita – citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan Guru harus dapat didudukan dan dibenarkan semata – mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya.<br />
Berkenaan dengan peranan seorang Guru, maka profesionalisasi seorang Guru sangatlah penting untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Namun demikian, membahas masalah profesionalisasi seorang Guru tidak dapat lepas dari persyaratan atau kualifikasi – kualifikasi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini berkaitan dengan kualitas intelektual dan mentalnya untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik dan pembimbing. Bagi saya secara pribadi memaknai “profesionalisme” seorang pendidik lebih kepada aspek afeksi seorang pendidik. Dimana seorang pendidik yang tidak profesional lebih hanya seorang “pekerja” yang hanya memberikan kewajibannya saja untuk mengajar dan menuntut haknya “uang” semata tanpa memikirkan aspek psikologis para murid dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Sekarang ini jarang sekali kita temui seorang pendidik yang benar – benar berdedikasi secara luhur dan berdasarkan panggilan hati nuraninya sebagai seorang “Guru”. Saya termasuk orang yang kurang sependapat kalau “uang” adalah faktor utama yang dapat meningkatkan keprofesionalisasian seseorang terhadap pekerjaannya atau lebih tepatnya tanggung jawabnya. Kesejahteraan “uang” bukan satu – satunya alasan seorang pendidik untuk menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk mereka mengeluhkan keprofesionalan pekerjaan mereka, pada akhirnya peserta didik lah yang akan menjadi korbannya.<br />
Permasalahan klasik juga diutarakan pada artikel ini yang menyatakan faktor “kesejahteraan” sangat berimplikasi terhadap rendahnya kinerja seorang Guru. Dalam menyikapi masalah satu ini, banyak yang pro dan kontra terhadap masalah “kesejahteraan” yang selama ini telah menjadi permasalahan yang belum ketemu ujung pangkalnya. Sebagian orang beranggapan bahwa sangat kurangnya kompensasi dari pemerintah terhadap kinerja guru mengakibatkan kurang profesionalnya para guru di negara kita selama ini. Akan tetapi ada juga yang beranggapan bahwa “kesejahteraan” itu tidak dapat sepenuhnya menjamin keprofesionalan seorang Guru dalam bekerja. Kesejahteraan itu muncul apabila seorang Guru dapat bekerja secara profesional dan bersungguh – sungguh menjalankan tugasnya  dengan penuh keikhlasan dan dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan. Seandainya “kesejahteraan” yang diberikan terlebih dahulu, menurut saya yang lebih layak menerimanya terlebih dahulu adalah para pendidik yang berada dipedalaman – pedalaman yang sudah barang tentu dedikasinya terhadap pendidikan harus kita acungi jempol. Sebagai contoh seorang “Butet” yang pendidikan terakhirnya S2, dengan penuh dedikasi mengabdikan dirinya pada pendidikan anak – anak disuku Anak Dalam dipedalaman Jambi dan sekarang kalau tidak salah dia berada dipedalam Papua. Kita patut mencontoh terhadap perjuangannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa memikirkan kesejahteraan dan kenikmatan dunia semata. Orang semacam ini yang seharusnya mendapatkan “kesejahteraan” yang selama ini dielu – elukan oleh para pendidik di negara kita, dan seharusnya kita malu!<br />
Menurut saya sudah saatnya kita menyikapi permasalahan – permasalahan yang ada di dunia pendidikan kita dari sekarang, kita harus memperbaiki kesalahan – kesalahan yang telah kita lakukan terutamanya terhadap LPTK di negara kita untuk lebih selektif dalam penerimaan mahasiswanya. Sehingga jurusan – jurusan keguruan dan kependidikan kita sekarang berisikan tidak hanya orang – orang “nomer dua” yang terpaksa dalam memilih jurusan dan bukan karena panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. Hendaknya dilakukan seleksi yang ketat dan profesional, tidak hanya secara intelektual saja akan tetapi juga harus diberikan tes bakat dan minat terhadap calon tenaga pendidik tersebut, sehingga kita dapat menciptakan tenaga – tenaga pendidik yang mantap secara intelektual dan dedikasinya terhadap dunia pendidik. Apalagi di era pengetahuan seperti sekarang ini, apabila permasalahan – permasalahan dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini belum juga dapat ditanggulangi dengan segera, maka dunia pendidikan kita akan semakin tertinggal jauh baik secara kuantitas dan kualitasnya.<br />
Seandainya tenaga pendidik kita benar – benar diakui kedudukannya sebagai suatu profesi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa LPTK – LPTK yang ada akan diserbu dengan berbondong – bondong didatangi oleh calon – calon mahasiswa seperti yang terjadi pada jurusan kedokteran, hukum, psikologi, dan profesi lainnya. Yang sangat kita khawatirkan adalah kecenderungan orang – orang untuk menjadi seorang pendidik hanya beralasan pada masalah “kesejahteraan” semata, tanpa adanya panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. Apabila ini dibiarkan maka akan semakin membuat terperosoknya kualitas pendidikan di negara kita, khususnya terhadap kualitas pendidik dinegara kita.<br />
Upaya dalam menyikapi profesionalisme tenaga pendidik dalam usaha untuk meningkatkan mutu pendidik sekaligus juga mutu peserta didik di negara kita. Salah satunya melalui kebijakan mengenai sertifikasi guru yang sekarang ini sedang digembar – gemborkan. Pada dasarnya sertifikasi adalah upaya untuk meningkatkan profesi seorang pendidik agar setara dengan profesi – profesi yang sudah ada seperti; dokter, pengacara, psikolog, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya profesi adalah suatu pernyataan atau janji seseorang yang mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau layanan karena orang tersebut merasa terpanggil menjabat pekerjaan itu. Sedangkan sertifikasi pada hakikatnya adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi. Apabila dihubungkan dengan profesi guru, maka sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar dalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu.<br />
Pada kenyataanya bahwa negara kita adalah negara kepulauan yang tersebar begitu luas dan berbudaya yang majemuk. Dimana pemerataan pendidikan seakan – akan hanya sebatas angan – angan semata dari pemerintah. Apabila kebijakan sertifikasi ini menjadi suatu keharusan, maka yang dapat mengaksesnya hanya terbatas kepada pendidik yang berada diperkotaan saja. Bagaimana kiranya nasib pendidik didaerah pedalaman yang tidak hanya sebagai seorang Guru, akan tetapi menjadi seorang kepala sekolah, menjadi pembimbing, sekaligus paman sekolah. Realita yang ada bahwa banyak sekolah – sekolah baik dari tingkat dasar bahkan kepada tingkat menengah di daerah pedalaman yang mengalami kekurangan pendidik? Saya mendukung pendapat J. Drost bahwa hendaknya pemerintah memikirkan semacam penempatan kerja para Guru, bisa dipertimbangkan agar bagi mereka yang ingin menjadi seorang Guru negeri (PNS), mungkin ada semacam “pengabdian Guru” selama 2 – 3 tahun didaerah – daerah terpencil. Dengan demikian daerah yang kurang tenaga pendidiknya akan mendapat Guru yang segar dan masih bersemangat. Untuk mereka yang sudah merasa cocok pada tempat pengabdiannya kelak dapat dibantu untuk menjadi kepala sekolah nantinya. Secara tidak langsung pemerataan pendidikan dapat direalisasikan dan sekaligus kita mendapatkan para Guru yang memiliki dedikasi yang sungguh – sungguh terhadap jabatannya sebagai “Pendidik”. Muncul pertanyaan bahwa siapa “Guru” yang bagaimana yang berhak mengikuti program sertifikasi ini? Kenyataannya sekarang bahwa kepala sekolah tidak bisa mengikuti program sertifikasi ini, hal ini malah nantinya mengakibatkan kesenjangan yang lebih fatal terhadap para pendidik itu sendiri!.<br />
Sebenarnya profesionalisme pendidik sudah didengungkan sejak tahun 1973 yang dipelopori oleh Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung. Dan pada saat ini melalui UPI yang notabene adalah satu – satunya yang bersetatus sebagai BHMN, diharapkan mampu mencetak lulusan tenaga pendidik yang kompeten dan profesional dibidangnya. Ditambah dengan ketatnya penjaringan terhadap calon mahasiswa di UPI diharapkan mendapat input yang bagus sekaligus memiliki dedikasi yang tinggi dalam profesi pendidik yang dipilihnya. Tidak hanya kemampuan intelegensi saja yang diutamakan dalam penjaringan mahasiswa baru di UPI, akan tetapi dedikasinya terhadap profesi yang dipilih oleh calon mahasiswanya lewat tes minat bakat yang ketat. Sebaiknya keseriusan yang dilakukan UPI dalam meningkatkan mutunya dapat dikiranya diikuti oleh LPTK – LPTK yang lain yang tersebar diseluruh Indonesia. Sehingga pemerataan mutu pendidikan semakin merata diseluruh pelosok bangsa, dan mahasiswanya dapat berjalan dengan kepala tegak sekaligus bangga “Aku Ingin Menjadi Guru”!.<br />
Dari permasalahan seperti yang ada diatas ada asumsi bahwa faktor utama rendahnya mutu pendidikan adalah ditentukan oleh faktor guru, untuk mengatasi hal itu adalah kemampuan guru harus ditingkatkan, harus kompeten dan profesional, untuk itu LPTK sebagai subsistem pengajaran harus dibenahi kembali agar dapat mengelola dan menghasilkan lulusan yang kompeten dan profesional. Akan tetapi apabila tidak didukung oleh niat tulus dari pemerintah, maka semuanya ini hanyalah mimpi belaka. Selama ini kita melihat bahwa pemerintah dalam membuat suatu kebijakan sangat kontroversial. Apakah kebijakan sertifikasi ini hanyalah sebagai upaya cuci tangan dari pemerintah untuk meredakan desakan – desakan dari para Guru yang sangat agresif dalam memperjuangkan kesejahteraannya?. Seperti janji pemerintah untuk menaikan gaji Guru dengan dua kali gaji pokok sekarang ditambah dengan tunjangan – tunjangan yang lain, TAPI?.<br />
Saya akan mencoba menganalisis dari segi mutu pendidik lewat sertifikasi profesi. Salah satu upaya untuk melihat apakah guru masih memiliki kemampuan profesional dan kemampuan akademik yang memadai dilakukan suatu program yaitu sertifikasi. Menurut Suyanto (2003) program sertifikasi bagi guru merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk memotong mata rantai penyebab rendahnya kuailtas guru. Guru sebagai sosok profesional harus memiliki kecakapan kerja yang selaras dengan tuntutan bidang kerja yang ditekuni, sehingga mempunyai kewenangan yang jelas dalam peningkatan kualitas masyarakat Indonesia.<br />
Sertifikasi berasal dari kata certification yang berarti diploma atau pengakuan secara resmi kompetensi seseorang untuk memangku sesuatu jabatan profesional. Apabila dihubungkan dengan profesi guru, maka sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar yang menunjukkan bahwa pemegangnya memiliki kompetensi mengajar dalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu seperti yang diterangkan dalam sertifikat kompetensi tersebut (P3TK Depdiknas, 2003). Sertifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi.<br />
Adapun ciri – ciri profesionalisme guru menurut Huole, C.O. dalam Suyanto (2003) adalah : (1). Memiliki landasan pengetahuan yang kuat, (2). Harus berdasarkan atas kompetensi individual bukan ats dasar KKN, (3). Memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, (4). Ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (5). Adanya kesadaran profesional yang tinggi, (6). Memiliki prinsip – prinsip etik yang berupa kode etik, (7). Memiliki sanksi profesi, (8). Adanya militansi individual, dan (9). Memiliki organisasi profesi. Sedangkan menurut Mungin (2003) guru yang profesional antara lain memiliki ciri : (1). Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, (2). Memiliki keterampilan membangkitkan minat peserta didik, (3). Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang kuat, dan (4). Memiliki sikap profesional yang berkembang secara berkesinambungan.<br />
Guru dihadapkan pada tantangan untuk mengembangkan keprofesionalannya dalam tiga dimensi, yaitu ilmu dan teknologi, pelayanan nyata pada masyarakat dan kode etik profesional. Guru harus bisa membuat pintar (kognitif), membuat terampil (psikomotor), dan bersikap benar (afektif). Budiarso (2004) mengemukakan bahwa unjuk kerja guru profesional antara lain : (1) keinginan selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal, (2)meningkatkan dan memelihara profesi, (3) keinginan selalu mengembangkan profesi dengan meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknologi, (4) mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi, dan (5) kebanggan terhadap profesi.<br />
Berdasarkan ciri-ciri profesionalisme, jelas bahwa sertifikasi sangat penting bagi guru. Tujuan sertifikasi ini menurut Suyanto (2003) adalah untuk memberikan jaminan akan kinerja dan kemampuan guru dalam melakukan pekerjaan mengajar dan mendidik secara profesional. Jaminan akan kualitas kinerja dan kemampuan guru memang sangat penting. Tanpa kualitas kemampuan dan kinerja yang terjamin juga akan dapat menjadi ancaman bagi dunia pendidikan. Akan tetapi ada hal lain yang juga sama pentingnya dengan masalah kualitas kinerja dan kemampuan ini yaitu si subyek belajar itu sendiri yaitu para murid. Dalam suatu proses pendidikan / belajar-mengajar, seorang guru dihadapkan pada situasi “keberagaman” dari para murid. Keberagaman itu meliputi karakter, kecerdasan, latar belakang keluarga, motivasi dalam belajar dan sebagainya. Dengan adanya keberagaman ini, seorang guru akan dihadapkan pada berbagai “masalah-masalah individual” dari para murid.  Dan untuk dapat mengatasinya, kecerdasan dan kualitas mendidik para guru bisa jadi tidak diperlukan lagi. Untuk permasalahan-permasalahan tertentu, yang dibutuhkan adalah “empati” dan juga “cinta”.<br />
Oleh karena itu, hendaknya masalah sertifikasi profesi guru ini agar di cermati lebih lanjut. Walaupun kualitas dan kemampuan seorang guru itu penting, namun kemampuan guru dalam berempati juga sangat penting. Karena dalam prosesnya, seorang guru akan berhadapan dengan anak didik yang beraneka ragam. Anak didik adalah individu-individu yang kompleks yang membutuhkan “sentuhan” tidak hanya intelektual (dalam menguasai materi dan penyampaiannya) akan tetapi juga diperlukan “sentuhan-sentuhan” kasih sayang untuk mengatasi masalah-masalah belajar lainnya. Oleh karena itu, hendaknya dalam menjalankan suatu kebijakan yang berkenaan dengan sertifikasi profesi guru ini, pemerintah dan pihak-pihak lain yang berwenang didalamnya harus juga memperhatikan kemampuan ber-empati seorang guru karena untuk melahirkan seorang guru yang profesional yang dapat benar-benar meningkatkan dunia pendidikan di Indonesia adalah seorang guru yang berkualitas kemampuan dan kinerjanya sekaligus ia harus mencintai profesi dan anak didiknya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/id03r.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/id03r.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/id03r.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/id03r.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=id03r.wordpress.com&amp;blog=1246116&amp;post=1&amp;subd=id03r&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id03r.wordpress.com/2007/06/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/350ace6fa542bcb99cec9312391b5dbd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">id03r</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
