Suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kotabaru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).
Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.
Banjar Pahuluan
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.
Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.
Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah denga keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.
Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya
Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.
Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.
Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.
Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.
Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju, yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.
Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Penyebaran suku Banjar
Suku Banjar adalah suku bangsa yang berasal dari Kalimantan Selatan. Migrasi suku Banjar ke Kalimantan Timur terjadi pada abad XV yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Sedangkan migrasi suku Banjar ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma. Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman. Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak, Selangor, Johor dan juga negeri Sabah. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian, Negeri Perak Darul Ridzuan.
Bubuhan
Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu) dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa bubuhan.
Pengislaman bubuhan
Suku bangsa Melayu -yang menjadi inti masyarakat Banjar-memasuki daerah ini ketika dataran dan rawa-rawa yang luas, – yang saat ini membentuk bagian besar Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah-masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman.
Suku bangsa Melayu ini,- dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat bawah.
Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata.
Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.
Pemerintahan bubuhan tempo dulu
Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang.
Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.
Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu.
Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang berwibawa pula.
Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama. Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.
Dengan demikian, dapat kita nyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesar kerajaan (baca:mantri-mantri).
Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung) tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Banjar
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Untuk kegunaan lain, lihat Banjar (disambiguasi)
Kabupaten Banjar adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.228 km² dan berpenduduk sebanyak 411.901 jiwa (2000).
Suku bangsa
Suku Banjar: 361.692 jiwa
Suku Jawa: 29.805 jiwa
Suku Bugis: 828 jiwa
Suku Madura: 13.047 jiwa
Suku Buket: 1.737 jiwa
Suku Mandar: 17 jiwa
Suku Bakumpai: 34 jiwa
Suku Sunda: 1.187 jiwa
Lainnya: 3.554 jiwa
(Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
Banjarmasin
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Jumlah penduduk di kota ini adalah sebanyak 527.250 jiwa (2000).
Kota Banjarmasin dibelah oleh sungai Martapura dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan.
Tanah aluvial yang didominasi struktur lempung adalah jenis tanah yang mendominasi wilayah kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metamorf yang bagian permukaannya ditutupi oleh krakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa.
Suku bangsa
Suku bangsa di kota ini antara lain:
Suku Banjar: 417.309 jiwa
Suku Jawa: 56.513 jiwa
Suku Bugis: 2.861 jiwa
Suku Madura: 12.759 jiwa
Suku Buket: 7.836 jiwa
Suku Mandar: 105 jiwa
Suku Bakumpai: 1.048 jiwa
Suku Sunda: 2.319 jiwa
Lainnya: 26.500 jiwa
(Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
DAFTAR LAGU BANJAR:
A
Adat Kawin – Cipt. Nanang Irwan
Ading Bastari -
Ading Sayang – voc./cipt. Khaidir Ali
Ala Ahai – Cipt. Syachruddin
Amas Mirah -
Ampar-Ampar Pisang – Cipt. Hamiedan AC
Ampat Lima – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Anak Pipit – Cipt. Hamiedan AC
Apo Kayan – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Asam Pauh Dalima Pauh – Cipt. Hamiedan AC
Atang Balain -
B
Badatang – Cipt. Arina Group, voc. Abdul Ghani Samatha
Badatang – voc./cipt. Khaidir Ali
Badindang Ligun – Cipt. Hamiedan AC
Bagasing Balogo – cipt. H. Anang Ardiansyah
Bahambur Kambang – Cipt. Nanang Irwan
Bahuma Surung – Cipt. Syarifuddin, MS
Bajanji Hati voc. Santa Hoky
Balauk Mandai Cipt. Nanang Irwan
Balikpapan – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Balisah – Cipt. A. Hamid
Bamalaman Manjatu Manggis – Cipt. Hamiedan AC
Banua Lima -
Banua Permata ciptaan Hamka
Bapukung Cipt. Nanang Irwan
Barambangan -
Basyariat voc. Novariana
Batasmiyah Cipt. H. Anang Ardiansyah
Batimung – Cipt. Nanang Irwan
Batulak Madam -
Beras Kuning – Cipt. Rasni – Dino
Bismillah Kata Bamula – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Bis Bintang Mas – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Boneka Cinta – voc. Astiyan
Buah Rambai – (lagu Kaltim)
Bulan Kabus – Cipt. Hamiedan AC
Buruk Sikuan – voc. John Tralala
Busu – Cipt. A. Hamid
C
Cagar Batatai – Cipt. Nanang Irwan
Cinta Kasih – voc. Astiyan
Cinta Marikit di Kotabaru -
Cinta Tapatri – Cipt. A. Hamid
Cuk Cuk Bimbi -
Curiak – Cipt. H. Anang Ardiansyah
D
Damar Dua – Cipt. A. Thmarin voc. Mila Karmila
Damarwulan – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Dandaman Banua – Cipt. Syarifuddin, MS
Dandaman Bulan Suci -
Danding -
Dayung Asmara – voc. Astiyan
Dayuhan wan Intingan -
Diang Galuh Banjar -
Diang Kakamban Kuning – voc./cipt. Khaidir Ali
Diang Katinting – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Di Banua Urang – Cipt. Farhan N
Di Hunjuran Mahakam – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Di Panajam Kita Badapat – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Do’a Gasan Uma – Cipt. Syarifuddin, MS
E
F
G
Gakuh Langkar Bapupur Bangkal – cipt. Ariyanti / MS. Syailillah
Galuh Permata Hirang -
Galuh Pangambangan -
Gingsi – voc. / cipt. Khaidir Ali
Giwang Dua – Cipt. H. Anang Ardiansyah
H
Halin -
Harta Warisan – cipt. Nanang Irwan
Hura Ahui – cipt. Hamiedan AC
I
Intan Marikit – cipt. Agit Kursani
Imah Galapung – voc. John Tralala
J
Jalinan Cinta – voc. Astiyan
Jangan Malandau – voc. Emma Rahman
Japin Rantauan – cipt. A. Hamid
Jasa Uma – cipt. Hamka, voc. Arif Maulana
Jawaban Karindangan – cipt. Nanang Irwan
Jimat Japang – voc / cipt. Khaidir Ali
Jimus Barata – cipt. A. Hamid
K
Kada Kasampaian – voc./cipt. Khaidir Ali
Kada Parcaya – voc. Astiyan
Kada Sakapur Sirih – cipt. A. Hamid
Kaganangan – cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Kaganangan Waktu di Pantai – cipt. Hamiedan AC
Kakamban Habang – cipt. H. Anang Ardiansyah
Kamana Hilangnya – voc. / cipt. Khaidir Ali
Kambang Goyang – cipt. H. Anang Ardiansyah
Kambang Barenteng – cipt. H. Anang Ardiansyah
Kambang Ilung – cipt. H. A.A. / Ayamudin Tifani
Kambang Jaruju -
Kampungku -
Kapal Gandengan Taksi – voc. H. Anang Ardiansyah
Karindangan – cipt./voc. Nanang Irwan
Karindangan – voc. Emilia Borneo
Karindangan – cipt. Ariyanti/ MS. Syailillah
Karindangan 2 – cipt. Nanang Irwan
Karindangan Supan Bapadah -
Kasasahangan – cipt. Hamka, voc. Arif Maulana
Kasih Kada Kasampaian _
Ke Pulau Kembang -
Kilau Utas – cipt. Nanang Irwan
Kisah Kelabu – voc. Astiyan
Kuta Martapura – voc./cipt.Khaidir Ali
L
Latifah – cipt. H. A.A. / Ayamudintifani
Lagu Dua – cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Lalan Tirik – cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Lamun Datang Itu Lagu – cipt. H. Anang Ardiansyah
Lasung Balenggang – ipt. Musik Panting Cempaka Putih
M
Maampar Sajadah – cipt. Hamka
Maayun Anak Cipt. Syarifuddin, MS / Drs. Nasrullah
Madihin Dangdut – voc. Ellen
Mahadang Ading – voc. Triyuni
Ma-Iwak – Cipt. Taboneo Group/ H. A.A
Malandau -
Mambari Maras – (lagu Kaltim)
Mandung-mandung -
Manuntut Janji – cipt. A. Hamid
Marista – cipt. A. Hamid
Maronca-ronca – voc. Rina / Helda
Mausung Janji -
Minta Ikatan – cipt. Nanang Irwan
Musik Panting – cipt. Sayrifuddin, MS / A.W. Syarbaini
N
Nanang Galuh -
Nasib Si Pandukuhan – cipt. Syarifuddin, MS
Nasib Tambangan – cipt. S. Salfas
Nyanyian Sungai ciptaan Hamka
O
Oh Dimapa – cipt. Nanang Irwan
Oto Biru – cipt. H. Anang Ardiansyah
O Kaka O Kiki -
P
Pagat Kasih – Cipt. Syarifuddin, MS
Pagat Larangan – Voc. Dedi Arman
Palihara Tanah Banyu – Cipt. Syarifuddin, MS / Ian Emti
Pambatangan -
Papadah – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Pangeran Suriansyah – voc. / cipt. H. Anang Ardiasyah
Panginangan – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Panjang Balikat -
Panjarat Hati – ciptaan Hamka
Pantun Cinta – Cipt. Hamidhan
Pantun Papadah – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Paris Barantai – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Penari Gandut – cipt. Hamka
Pesta Pantai Pagatan – cipt. Hamka, voc. Meggy Z
Pucuk Pisang – Cipt. Hamiedan AC
Puhun Rambai – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Purunnya – Cipt. Syachruddin
Putri Junjung Buih – cipt. Hamka, voc. Meggy Z
R
Rabah Bangun – voc. Solid AG
Ranjang Wasi – cipt. Nanang Irwan
Rumah Banjar – cipt. Rustam R
Raja Egal – cipt. Hamka,voc. Arif Maulana
Rosalinda – voc. Solid AG
S
Sabarai-sabarai – (lagu Kaltim)
Salbiah – Cipt. Arina Group
Samagin Baliur -
Sambal Raman – Cipt. H. A.A.
Sangu Batulak – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Sapu Tangan Babuncu Ampat – Cipt. Zaini / Taboneo Group
Sanja Kuning – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Saruan Sakampung – voc. Astiyan
Sarung Samarinda – Cipt. H. Anang Ardiansyah
Siapa Ampun Larangan – Cipt. H. Anang Ardiansyah voc. Sam Chandra
Sisigan Sungai – Cipt. Syarifuddin, MS
Sisip – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Sirih Kuning – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Sudah Taparukui- cipt. Yusni Badaruddin / Doddy
Sungai Martapura – Cipt. Syarifudin, MS
Suanang – Cipt. Arina Group
T
Takajut Rami – Cipt. Nanang Irwan
Talambat Badatang – Cipt. Syarifuddin, MS
Talanjur – Cipt. Syarifuddin, MS / Sanderi
Tali Wasi – Cipt. NN
Tanda Babakti – Cipt. Nanang Irwan
Tapin Wisata – Cipt. Listiadi
Tarminah – Cipt. Hamidan Asli
Tari Bagandang – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Tarimakasih – Cipt. Mas’ud
Tatangis – Cipt. Hamiedan AC
Taungut – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih
Tirik Lalan -
U
Ujar pang kada bamasak -
Uma Abah -
Umpat Bis Bintang Mas – cipt. Anang ardiansyah
W
Watas Penantian – voc. Astiyan
Y
Yun Apan Yun Nana – Cipt. Hamiedan AC
Rumah Banjar
Definisi
Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar.
Jenis-jenis Rumah Adat Banjar
Jenis- jenis rumah adat Banjar
Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Gajah Baliku
Rumah Gajah Manyusu
Rumah Balai Laki
Rumah Balai Bini
Rumah Palimbangan
Rumah Palimasan (Rumah Gajah)
Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)
Rumah Tadah Alas
Rumah Lanting
Rumah Joglo Gudang
Rumah Bangun Gudang
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN RUMAH ADAT BANJAR
Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º.
Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.
Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596 – 1620.
Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.
Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.
Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tampak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.
Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.
Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.
Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.
Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.
Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang.
Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.
Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung.
Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.
Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.
Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai.
Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah.
Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.
Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama.
Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.
Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Akan tetapi sekarang dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi.
Sejak tahun 1930-an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.
Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.
Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman.
Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang.
Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930.
Untuk daerah Kalimantan Selatan masih dapat dijumpai beberapa rumah adat Banjar yang sudah sangat tua umurnya seperti di Desa Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut (Kota Banjarmasin), Desa Teluk Selong, Desa Dalam Pagar (Martapura), Desa Tibung, Desa Gambah (Kandangan), Desa Birayang (Barabai), dan di Negara.
Masing-masing rumah adat tersebut sudah dalam kondisi yang amat memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali.
Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut karena alasan-alasan tertentu , seperti malu atau gengsi. Karena merasa dianggap tidak mampu merawat rumahnya sendiri.
Bagaimanapun keadaan rumah-rumah tersebut, dari sisa-sisa yang masih bisa dijumpai dapat dibayangkan bagaimana artistiknya bangunan tersebut yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.
(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)
KONSTRUKSI RUMAH ADAT BANJAR
Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.
Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.
Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu : a. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk. b. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung. c. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi. d. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit. (yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan).
Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.
Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :
1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.
2. Panampik Kacil, yaitu ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui lawang hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
3. Panampik Tangah yaitu ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.
4. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.
5. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
6. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.
7. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal.
Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.
Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil.
Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.
Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter.
Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.
(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)
Tata Ruang dan Kelengkapan Rumah Tradisonal Banjar
TATA RUANG DAN KELENGKAPAN RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI
Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.
Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi menjadi surambi muka dan surambi sambutan.
Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.
Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu (dapur).
Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan kelengkapannya;
Surambi
Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.
Pamedangan
Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.
Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)
Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung, pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan tarumpah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.
Paluaran (Panampik Basar)
Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan Paledangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas, parapen, rehal.
Paledangan (Panampik Panangah)
Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa – Anjung Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap, kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.
Anjung Kanan – Anjung Kiwa
Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.
Padu (dapur)
Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit dan ayunan anak.
Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti.
Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.
Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.
(Museum Lambung Mangkurat – Banjarbaru, “Rumah Tradisonal Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)
Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar
BAGIAN DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI
Pondasi, Tiang dan Tongkat
Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.
Kerangka
Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah : 1. susuk dibuat dari kayu Ulin.
2. Gelagar dibuat dari kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.
3. Lantai dari papan Ulin setebal 3 cm.
4. Watun Barasuk dari balokan Ulin.
5. Turus Tawing dari kayu Damar.
6. Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin.
7. Balabad dari balokan kayu Damar Putih. Mbr> 8. Titian Tikus dari balokan kayu Damar Putih.
9. Bujuran Sampiran dan Gorden dari balokan Ulin atau Damar Putih.
10. Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.
11. Kasau dari balokan Ulin atau Damar Putih.
12. Riing dari bilah-bilah kayu Damar putih.
Lantai
Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.
Dinding
Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.
Atap
Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.
Ornamentasi (Ukiran)
Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi.
(Museum Lambung Mangkurat – Banjarbaru, “Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)
[sunting]
CARA MENENTUKAN UKURAN RUMAH ADAT BANJAR
Menurut Brotomoeljono (1986 : 87);
A. Panjang dan lebar rumah ditentukan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil.
B. Dihitung dengan mengambil gelagar pilihan, kemudian dihitungkan dengan perhitungan gelagar, geligir, gelugur.
Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga harus ditutup dengan gelagar.
Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan.
(Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87) Cara lain menurut Alfani Daud, MA. (1997 : 462);
Ukuran panjang dan lebar rumah dilambangkan delapan ukuran lambang binatang yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak.
Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah.
Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing, keledai, atau gagak.
(Jumlah) panjang depa seseorang yang membangun rumah dibagi delapan mewakili binatang berturut-turut seperti tersebut terdahulu.
(Tiap depa dikalikan 12)
Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi.
Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa.
(Alfani Daud, MA, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997 : 462)
[sunting]
FILOSOFI RUMAH BUBUNGAN TINGGI
Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.
Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.
Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah.
Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).
(Siswono Yudohusodo)
Bahasa Banjar
Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di propinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain. Bahasa Banjar dihipotesakan sebagai bahasa proto Malayik, seperti halnya bahasa Minangkabau dan bahasa Serawai (Bengkulu).
Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur,juga digunakan di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, dimana bahasa ini dipakai sebagai bahasa penghubung antar suku.
Bahasa banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.
Bahasa Banjar terdiri atas dua kelompok dialek yaitu;
Bahasa Banjar Hulu
Bahasa Banjar Kuala
Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa-bahasa di Kalimantan lainnya.
Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Maanyan
warik (Banjar), warik (Dayak Maanyan), varika (Merina-Madagaskar); artinya monyet.
bamban (Banjar), wamban (Dayak Maanyan), bumban (Dayak Siang Murung); artinya nama sejenis tanaman.
Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai
lumbah (Banjar), lombah (Dayak Ngaju); artinya luas
umpat (Banjar), umba (Dayak Bakumpai); artinya ikut
busu (Banjar), busu (Dayak Ngaju); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).
aray (Banjar Hulu), aray (Dayak Bakumpai); artinya senang
babaya (Banjar), babaya (Dayak Bakumpai); artinya hampir
diang (Banjar Hulu), diang (Dayak Bakumpai); artinya anak dara
Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Bukit
aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan
ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar
bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari
Bahasa Banjar vs Bahasa Kutai
busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).
umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut
kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa
kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti
inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia
sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau
muntung (Banjar), moncong (Kutai); artinya mulut
Perbandingan Bahasa Banjar dengan Bahasa Jawa
hanyar (Banjar), anyar (Jawa); artinya baru
lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama
habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah
hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam
halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap
halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah
banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air
sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)
an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)
picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta
sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya
licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek
baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari
kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri
rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor
kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang
padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras
dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan
iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan
awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan
ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa
ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi
ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus) untuk Dewa
jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan
kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna
tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik
lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau
reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung
kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya
ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah
gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher
kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal
kawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya lambai
ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama
paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya…(contoh pernah mantu)
parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat
Tari Banjar
Definisi
Tari Banjar adalah seni tari yang dikembangkan oleh suku Banjar, baik berupa tari klasik maupun tari tradisional.
Jenis-jenis Tari Banjar
Tari klasik
Tari tradisonal
Bagandut
Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera.
Baksa Dadap
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar.
Baksa Kembang
Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita.
Baksa Lilin
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan membawa lilin.
Baksa Panah
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan memanah.
Baksa Tameng
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan tameng (perisai).
Balatik
Latik artinya tunas, balatik artinya bertunas. Tarian ini menggambarkan tumbuhnya tunas-tunas muda seniman tari Banjar.
Baleha
Merupakan jenis tari berpasangan
Batarasulan
Merupakan jenis tari berpasangan
Bogam
Bogam adalah rangkaian bunga mawar dan melati. Tarian ini merupakan tari selamat datang dengan mempersembahkan kembang bogam kepada para tamu.
Dara Manginang
Tarian ini menggambarkan anak dara yang sedang menginang.
Garah Rahwana
Tarian yang menggambarkan sifat antagonis tokoh Rahwana dalam wayang Banjar.
Hantak Sisit
Merupakan jenis tari berpasangan.
Hanoman
Tarian yang menggambarkan tokoh Hanoman pada cerita Ramayana dalam wayang Banjar.
Japin Batuah
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu, semua penari adalah wanita.
Japin Bujang Marindu
Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.
Japin Dua Saudara
Tarian yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan budaya Melayu.
Japin Hadrah
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang mengangkat kesenian Hadrah ke dalam gerak tari yang dinamis, semua penari adalah wanita.
Japin Pasanggrahan
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dengan semua penarinya adalah wanita.
Japin Rantauan
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam
Japin Sisit
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam
Kuda Gepang
Tari prajurit berkuda (kavaleri), merupakan pengaruh budaya Jawa.
Ladon
Ladon merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki.
Ning Tak Ning Gung
Merupakan tari dolanan anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain.
Paris Tangkawang
Merupakan jenis tari berpasangan
Radap Rahayu
Merupakan tari klasik Banjar dalam menyambut tamu agung dan ditarikan dalam upacara perkawinan, para penarinya adalah wanita.
Rudat
Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi duduk.
Sinoman Hadrah
Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi berdiri.
Tameng Cakrawati
Tari yang menggambarkan seorang isteri (Cakrawati) yang melanjutkan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda.
Tirik Lalan
Merupakan jenis tari tradisional berpasangan
Topeng Kelana
Merupakan jenis tari topeng dengan tokoh Kelana, tari ini merupakan pengaruh budaya Jawa.
Topeng Wayang
Merupakan jenis tari berpasangan
Peribahasa Banjar
HURUF K
kabanyakan
Kabanyakan guring awak kurus karing
Kabanyakan rangka, habis kada sahama-hama
kacil
Kacil mulik sasak di lawang
kada
Kada ada buriniknya
Kada ada kukus amun kada ada api
Kada ada nang dikutil-kutil
Kada ada urang nang bajual di pasar
Kada ada urat tulangnya
Kada bahabu dapur
Kada balampu
Kada baliur
Kada batanah sajari-jari
Kada batanam nyiur
Kada ingat burit kapala
Kada jadi baras
Kada karing gigi
Kada kauluran
Kada kaya paku lantak di papan
Kada kawa dikulai
Kada kulih kiwa kanan
Kada mamak dijarang
Kada mambadai lawan kaluung
Kada mambuang taruh
Kada mau balabih urat tulang
Kada mayu parutnya
Kada mayu tangannya
Kada kaya mamamah lumbuk balalu padas
Kada paparakan hujung kukunya
Kada purun tikus, matan purun banar
Kada tacampur minyak lawan banyu
Kada tadangar garacak piring
Kada takulihi mintuha lalu
Kada titik banyu diganggam
Kada wayah dipawayah
kajam
Kajam pada Japang
kalawasan
Kalawasan mahadang, imbah Ahad, Ahad pulang
Kalimbuai pusing kiwa
Kalibatan tali gasing
Kaminting pidakan
Kana gatahnya haja
Kaning kaya ditulis
Kantutnya gin sumbang
Kantut samut
Kapala bapa ikam
Kapala manyuruk buntut mahambat
Kapala sama babulu, otak lain-lain
Karas-karas karak, limbah dibanyui lamah jua
Karing pada kalaras
Kasasahangan
Katahuan habang hirangnya
Kawa dicaramini
Kaya api dikubui banyu
Kaya api dikubui minyak
Kaya bisul maangkut nanah
Kaya bubut lawan kasisikat
Kaya Bukit turun ka kuta
Kaya baburak kalingaian
Kaya cacing kapanasan
Kaya cacing panggal
Kaya Cina kakaraman
Kaya Cina kahilangan dacing
Kaya daun tarap gugur parapas-parapas
Kaya Dayuhan lawan Itingan
Kaya gadang buruk
Kaya hantu Barabiaban
Kaya hayam jagaunya
Kaya hayam saungan
Kaya ingkul Inggris
Kaya iwak kana tuba
Kaya kalayangan pagat
Kaya karacak ayam
Kaya kucing malihat tikus
Kaya kucing marau
Kaya latupan cabi
Kaya maling kasiangan
Kaya mancabut kasusuban
Kaya manimbai batu ka banyu
Kaya manjuhut rambut di galapung
Kaya muak kucing
Kaya pinang dibalah dua
Kaya punai kakanyangan
Kaya siput dipais
Kaya tandui dilumu
Kaya tikus kahujanan
Kaya tiwadak dihantak
Kaya ular baganti salumur
Kaya urang imbah baranak
Kaya urang kalah pamainan
Kaya urang kasarungan
Kaya warik tagapit dahan
Kaya warik tajun ka kacang
Kikik-kikik burung maling
Kilat dalam banyu gin pinandu
Kuduk kada mati ular kada kanyang
Kudung hanyar hanyar bautas
Kujub-kujub kaya mata bidawang
Kula-kula buhaya
Kukulilik di luang satu
Kulik-kulik bunyi halang
Kulimbit mati
Kulu sipatin
Kumpai mangalahakan banua
Kurihing simpak
Kur sumangat, hilang panyakitnya
Kuriding patah
Kurang hantak kurang surung
HURUF L
Lagu nang kaya pingkalung sangkut
Lain danau lain iwaknya
Lain nang disurung lain nang dikalang
Laju pada trak
Lalat mancari kudis
Lamah bulu
Lamah limbai
Lamak mungkal kaya iwak lampan
Lambat mambalik talapak tangan
Lambat mambanam kapas
Lamun dirandam ka sungai mauk saluang
Lamun garing, awu mantah gin kada tamakan
Lamun kawan naik jangan dipiruhuti
Langkang pipi amun tatawa
Lancar bapandir bahira maucir
Lapah manggutak
Lapas di muntung harimau, masuk ka muntung buhaya
Lindung kucing baduduk
Lingis kaya dijilat naga
Liur baungan
Luka kana bidingnya
HURUF M
Mahadang buah bungur
Mahambat kalaras karing
Maitung kasau di bubungan
Makin tuha makin baminyak
Malatui kana dahi
Malingus di hadapan mintuha
Mamasang kulah di karing
Mambawa bala ka rumah
Mambawa jari sapuluh
Mamuji pakasam saurang
Mana manyatang, mana manyatupur
Mananam haur tumbuh batung
Manangguk di banyu karuh
Manapak banyu di apar
Manapak muha saurang
Manapas muha mintuha
Manarik paring matan di hujung
Manangis kada babanyu mata
Mancaluk padaringan urang
Mancari suluh tajajak hundayang
Mancari bagandang nyiru
Manis mangurung madu
Manimpasakan parang urang
Manggaru kapala nang kada gatal
Manyambung puntung handap
Manjilat ludah dilantai
Manurutakan kahandak kada ada habisnya
Mata kaya mata maling
Muha kaya gambar
Muha kaya panai
HURUF N
Naik di kapuk turun di hanau
Naik di pinang turun di hanau
Nangapa ujar sidin haja, manurut maka kada
Nang kaya burung, imbah kanyang tarabang
Nang kaya apa sakira nyaman
Nang manis jangan lakas ditaguk, nang pahit jangan lakas diluak
Nang sakilan jadi sadapa
Nasi sabigi satahun hanyar ada
Nasi sabigi gin kada tataguk
Ngalih mambuang batu di palatar
HURUF P
Paaliran disambar buhaya
Pahabisan burung babunyi
Paku mahadang tukul
Panas-panas tahi hayam
Pamali duduk di watun
Pandir kaya buak
Pantas haja ari pina sahujan-hujan
Pina paiyanya, imbah tapadupak pandahuluannya bukah
Pisang kada babuah dua kali
Pitung Rajab mahadang
HURUF R
Raja bigi kapuk
Rambut kaya mayang maurai
Rambut kaya sagar hanau
Rusak mulai di rapun
HURUF S
Saatiril
Sabuku gunung, saikung dangsanak
Sagantang dua gantang
Sahibar umpat bapandir
Saikung-ikung kada mawadi
Saikung hadangan bakuang, samunyaan kada lucaknya
Sajampal tiga suku
Sakahandak mambalang, mintuha bajual kasumba
Sakurang-kurang buhaya, banyu nang malamasakan
Salapik sakaguringan, sabantal sakalang hulu
Sandu-sandu bakut, amun maluncat limpua hampang
Sangkut di gigi, kada ka parut
Sapuluh kali batang batindih, bilungka jua nang rimiknya
Satabul nang kada diganang
Satali tiga uang
Satu karja dua gawi
Siang bapanas, malam baambun
Siapa manabuk luang, inya saurang nang tabarusuk
Sasingut mahulu pisau
Suara kaya bunyi burung bubut
Sudah bahatap sing
Sudah banyak makan uyah
Sudah tamakan tarasai
Sudah tamulai basah
Sukuram datang siang,jaka malam basuluh
Surung kiwa, sambut kanan
HURUF T
Taambil kaminting gumpa
Tabang nani rabah ka natu, tabang natu rabah ka nani
Tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual
Tabawa bkul buntus
Tabuati jukung miris
Tacalubuk ka padang licak
Taduduki bara api
Tagatuk sarang kararawai
Tahadapi nasi tambah
Tahalang tabujur disurung sidin haja
Tahan mamanasi kulit
Tahuai inya pintar, tagal kami kada katuju
Tahi mata kaya tungku dapur
Takacak bara api
Takana daging saurang
Takujihing muntung sidin
Takujingat hidung sidin
Takurihing sampai ka talinga
Takurung balak anam
Talangkahi dangsanak tuha
Talalu harp tatiharap
Talalu pilih, tapilih bangkung
Talalu puji takujiji
Talalu runding takujihing
Talinga kaya kijing
Talinga rinjingan
Tali salawar tajarat mati
Tamakan daging kulanya
Tamakan pangalih kawan
Tampulu jadi raja
Tanah kada rata
Tanggiling maunduh paring, disambat ngaran gugur mandabuk
Tapakai kacamata kaur
Tapalit tahi babau
Tapuruk salawar handapku
Tapuruk salawar mintuha
Taranjah garubak bagana
Tasisit bigi palir
Tatajun ka sumur karing
Tatukui lukah puang
Timbul tinggalam kulabuni
Tinggali ular nang tadudi
Tumbuh kapuk di bantal
Tumit kaya hintalu dibasuh
Tungau di subarang kalihatan, gajah di dahi talindung
Tunggul gin amun dipupuri bungas
Turun hayam naik hayam
HURUF U
umpat
Umpat di batang timbul
Umpat mambuat baras
Umpat nang manang
untung
Untung kada picak
upung
Upung mamadahi mayang
urang
Urang mangantuk disurungi bantal
Urang manyurung tungkat, inya manyurung galagar
Urang-urangnya makan sabun
Urang tuha jangan diulah papainan
HURUF W
wadai
Wadai Dua Kali Sakit
Wadai Sasangga Laung
Wadai Tupi Waja
waja
Waja Sampai ka Puting
wajik
Wajik Tu, Baiwak La Ngul
waluh
Waluh Bajarang
wani
Wani Manimbai Wani Manajuni
wastu
Wastu Sabutingannya
(Sumber: Drs. Syamsiar Seman dan H. Ahmad Makkie, Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Banjar, Jilid 2 huruf K – W, oleh Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 1998)
[sunting]
PERIBAHASA DAN UNGKAPAN BANJAR LAINNYA
Awak asa ripu
Kada kalah tadah
Kaya saluang mudik
Kaya kalimpanan
Kupiah haja putih
Takatil
Urang nang badahi
Wani Hangit
Ngalih mambuang batu di palatar ngalih maubah laku nang sudah mandasar
[sunting]
KARAKTERISTIK BENTUK, FUNGSI, MAKNA DAN NILAI PERIBAHASA BANJAR
Budayawan Kalimantan Selatan yaitu Tajuddin Noor Gani, SPd, MPd, telah mengarang sebuah buku berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar. Dalam buku setebal 395 halaman tersebut, beliau memaparkan tentang karakteristik bentuk, fungsi, nilai dan makna atas 165 buah peribahasa banjar yang sudah dikenal di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Karya beliau ini merupakan kepedulian terhadap salah satu kekayaan lokal genius etnis Banjar.
Beberapa peribahasa yang dikumpulkan oleh Tajudin Noor Gani, antara lain :
Ada kada malabihi, kada ada kada mangurangi.
(Maksudnya : seseorang yang keberadaannya tidak mempunyai arti apa-apa)
Adat urang main, ada kalah ada manang.
(Maksudnya : kalah dan menang dalam suatu permainan adalah biasa)
Allahu wahdah; Inya mambari kada bawadah, Inya maambil kada bapadah.
(Maksudnya : Allah memberi tanpa batas dan Dia mengambil kembali tanpa harus bicara)
KALIMANTAN SELATAN
Geografis
Letak Geografis
Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 Km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2003 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.
Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Secara rinci luas wilayah dan batas wilayah serta panjang garis pantai dapat dilihat pada tabel 1
Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan.
Seni dan Budaya
Musik, teater tradisional dan wayang
Musik Panting
Musik Kurung Kurung
Mamanda (teater tradisional)
Wayang Kulit Banjar
Wayang Gong (wayang orang)
yohohoho, bagus buat referensi ntar kapan2 kalo ada tugas tentang kebudayaan banjar…
By: kiddiesm on February 5, 2008
at 21FebUTC+7
adalah tentang hubungan kerajaan banjar dgn kotawaringin?
By: jalian on February 12, 2008
at 15FebUTC+7
wow, salam kenal mas
By: taufik79 on March 28, 2008
at 21MarUTC+7
maaf baru buka blognya nih, soalnya sedikit gaptek bapak-bapk….. mohon dimaafkan!
terima kasih atas kunjungannya, moga2 kita bisa sharring terus…..
maaf kalau tulisannya terkesan nyeleneh, mungkin karena masih berjiwa muda “emosinya masih labil”
By: M. Rudi Januar on April 11, 2008
at 18AprUTC+7
Jambannya mana dur?
By: carbonized on August 1, 2008
at 23AugUTC+7
bagus banget pa….
By: diah on January 30, 2009
at 14JanUTC+7
umpat bailang..lah
By: wajidi on March 14, 2010
at 0MarUTC+7
Inggih pun pak wajidi, ulun jua umpat baelang ka blog pian nah.. (^_^) asa parak kampung mun sdh batamu lwn urg sabanua nih, jd dandaman jar urang biasanya wan kampung hehehe
By: M. Rudi Januar on April 10, 2010
at 12AprUTC+7
Mantappp … Tp hdk mengkoreksi dikit nah
aray (banjar) = pamer
Contoh : handak ba’aray = mau pamer
Sori ae mun tasalah …
By: hilwiyah on April 12, 2010
at 11AprUTC+7
Terima kasih Hil lah atas koreksinya, aku gin kebetulan kd tp mengerti bahasa banjar yang jarang dipakai kayatu tuh hehehe..(^_^)
By: M. Rudi Januar on May 11, 2010
at 12MayUTC+7