Posted by: M. Rudi Januar | January 25, 2008

Suku Banjar Dan Ragam Budayanya

Suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kotabaru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Banjar Pahuluan

Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.

Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.

Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah denga keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.

Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya

Banjar Batang Banyu

Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.

Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.

Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.

Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju, yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.

Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)

Penyebaran suku Banjar

Suku Banjar adalah suku bangsa yang berasal dari Kalimantan Selatan. Migrasi suku Banjar ke Kalimantan Timur terjadi pada abad XV yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Sedangkan migrasi suku Banjar ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma. Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman. Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak, Selangor, Johor dan juga negeri Sabah. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian, Negeri Perak Darul Ridzuan.

Bubuhan

Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu) dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa bubuhan.

Pengislaman bubuhan

Suku bangsa Melayu -yang menjadi inti masyarakat Banjar-memasuki daerah ini ketika dataran dan rawa-rawa yang luas, – yang saat ini membentuk bagian besar Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah-masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman.

Suku bangsa Melayu ini,- dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat bawah.

Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata.

Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.

Pemerintahan bubuhan tempo dulu

Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang.

Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.

Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu.

Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang berwibawa pula.

Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama. Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.

Dengan demikian, dapat kita nyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesar kerajaan (baca:mantri-mantri).

Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung) tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.

(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)

Banjar

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Untuk kegunaan lain, lihat Banjar (disambiguasi)

Kabupaten Banjar adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.228 km² dan berpenduduk sebanyak 411.901 jiwa (2000).

Suku bangsa

Suku Banjar: 361.692 jiwa

Suku Jawa: 29.805 jiwa

Suku Bugis: 828 jiwa

Suku Madura: 13.047 jiwa

Suku Buket: 1.737 jiwa

Suku Mandar: 17 jiwa

Suku Bakumpai: 34 jiwa

Suku Sunda: 1.187 jiwa

Lainnya: 3.554 jiwa

(Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)

Banjarmasin

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Jumlah penduduk di kota ini adalah sebanyak 527.250 jiwa (2000).

Kota Banjarmasin dibelah oleh sungai Martapura dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan.

Tanah aluvial yang didominasi struktur lempung adalah jenis tanah yang mendominasi wilayah kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metamorf yang bagian permukaannya ditutupi oleh krakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa.

Suku bangsa

Suku bangsa di kota ini antara lain:

Suku Banjar: 417.309 jiwa

Suku Jawa: 56.513 jiwa

Suku Bugis: 2.861 jiwa

Suku Madura: 12.759 jiwa

Suku Buket: 7.836 jiwa

Suku Mandar: 105 jiwa

Suku Bakumpai: 1.048 jiwa

Suku Sunda: 2.319 jiwa

Lainnya: 26.500 jiwa

(Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)

DAFTAR LAGU BANJAR:

A

Adat Kawin – Cipt. Nanang Irwan

Ading Bastari -

Ading Sayang – voc./cipt. Khaidir Ali

Ala Ahai – Cipt. Syachruddin

Amas Mirah -

Ampar-Ampar Pisang – Cipt. Hamiedan AC

Ampat Lima – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Anak Pipit – Cipt. Hamiedan AC

Apo Kayan – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Asam Pauh Dalima Pauh – Cipt. Hamiedan AC

Atang Balain -

B

Badatang – Cipt. Arina Group, voc. Abdul Ghani Samatha

Badatang – voc./cipt. Khaidir Ali

Badindang Ligun – Cipt. Hamiedan AC

Bagasing Balogo – cipt. H. Anang Ardiansyah

Bahambur Kambang – Cipt. Nanang Irwan

Bahuma Surung – Cipt. Syarifuddin, MS

Bajanji Hati voc. Santa Hoky

Balauk Mandai Cipt. Nanang Irwan

Balikpapan – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Balisah – Cipt. A. Hamid

Bamalaman Manjatu Manggis – Cipt. Hamiedan AC

Banua Lima -

Banua Permata ciptaan Hamka

Bapukung Cipt. Nanang Irwan

Barambangan -

Basyariat voc. Novariana

Batasmiyah Cipt. H. Anang Ardiansyah

Batimung – Cipt. Nanang Irwan

Batulak Madam -

Beras Kuning – Cipt. Rasni – Dino

Bismillah Kata Bamula – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Bis Bintang Mas – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Boneka Cinta – voc. Astiyan

Buah Rambai – (lagu Kaltim)

Bulan Kabus – Cipt. Hamiedan AC

Buruk Sikuan – voc. John Tralala

Busu – Cipt. A. Hamid

C

Cagar Batatai – Cipt. Nanang Irwan

Cinta Kasih – voc. Astiyan

Cinta Marikit di Kotabaru -

Cinta Tapatri – Cipt. A. Hamid

Cuk Cuk Bimbi -

Curiak – Cipt. H. Anang Ardiansyah

D

Damar Dua – Cipt. A. Thmarin voc. Mila Karmila

Damarwulan – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Dandaman Banua – Cipt. Syarifuddin, MS

Dandaman Bulan Suci -

Danding -

Dayung Asmara – voc. Astiyan

Dayuhan wan Intingan -

Diang Galuh Banjar -

Diang Kakamban Kuning – voc./cipt. Khaidir Ali

Diang Katinting – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Di Banua Urang – Cipt. Farhan N

Di Hunjuran Mahakam – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Di Panajam Kita Badapat – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Do’a Gasan Uma – Cipt. Syarifuddin, MS

E

F

G

Gakuh Langkar Bapupur Bangkal – cipt. Ariyanti / MS. Syailillah

Galuh Permata Hirang -

Galuh Pangambangan -

Gingsi – voc. / cipt. Khaidir Ali

Giwang Dua – Cipt. H. Anang Ardiansyah

H

Halin -

Harta Warisan – cipt. Nanang Irwan

Hura Ahui – cipt. Hamiedan AC

I

Intan Marikit – cipt. Agit Kursani

Imah Galapung – voc. John Tralala

J

Jalinan Cinta – voc. Astiyan

Jangan Malandau – voc. Emma Rahman

Japin Rantauan – cipt. A. Hamid

Jasa Uma – cipt. Hamka, voc. Arif Maulana

Jawaban Karindangan – cipt. Nanang Irwan

Jimat Japang – voc / cipt. Khaidir Ali

Jimus Barata – cipt. A. Hamid

K

Kada Kasampaian – voc./cipt. Khaidir Ali

Kada Parcaya – voc. Astiyan

Kada Sakapur Sirih – cipt. A. Hamid

Kaganangan – cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Kaganangan Waktu di Pantai – cipt. Hamiedan AC

Kakamban Habang – cipt. H. Anang Ardiansyah

Kamana Hilangnya – voc. / cipt. Khaidir Ali

Kambang Goyang – cipt. H. Anang Ardiansyah

Kambang Barenteng – cipt. H. Anang Ardiansyah

Kambang Ilung – cipt. H. A.A. / Ayamudin Tifani

Kambang Jaruju -

Kampungku -

Kapal Gandengan Taksi – voc. H. Anang Ardiansyah

Karindangan – cipt./voc. Nanang Irwan

Karindangan – voc. Emilia Borneo

Karindangan – cipt. Ariyanti/ MS. Syailillah

Karindangan 2 – cipt. Nanang Irwan

Karindangan Supan Bapadah -

Kasasahangan – cipt. Hamka, voc. Arif Maulana

Kasih Kada Kasampaian _

Ke Pulau Kembang -

Kilau Utas – cipt. Nanang Irwan

Kisah Kelabu – voc. Astiyan

Kuta Martapura – voc./cipt.Khaidir Ali

L

Latifah – cipt. H. A.A. / Ayamudintifani

Lagu Dua – cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Lalan Tirik – cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Lamun Datang Itu Lagu – cipt. H. Anang Ardiansyah

Lasung Balenggang – ipt. Musik Panting Cempaka Putih

M

Maampar Sajadah – cipt. Hamka

Maayun Anak Cipt. Syarifuddin, MS / Drs. Nasrullah

Madihin Dangdut – voc. Ellen

Mahadang Ading – voc. Triyuni

Ma-Iwak – Cipt. Taboneo Group/ H. A.A

Malandau -

Mambari Maras – (lagu Kaltim)

Mandung-mandung -

Manuntut Janji – cipt. A. Hamid

Marista – cipt. A. Hamid

Maronca-ronca – voc. Rina / Helda

Mausung Janji -

Minta Ikatan – cipt. Nanang Irwan

Musik Panting – cipt. Sayrifuddin, MS / A.W. Syarbaini

N

Nanang Galuh -

Nasib Si Pandukuhan – cipt. Syarifuddin, MS

Nasib Tambangan – cipt. S. Salfas

Nyanyian Sungai ciptaan Hamka

O

Oh Dimapa – cipt. Nanang Irwan

Oto Biru – cipt. H. Anang Ardiansyah

O Kaka O Kiki -

P

Pagat Kasih – Cipt. Syarifuddin, MS

Pagat Larangan – Voc. Dedi Arman

Palihara Tanah Banyu – Cipt. Syarifuddin, MS / Ian Emti

Pambatangan -

Papadah – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Pangeran Suriansyah – voc. / cipt. H. Anang Ardiasyah

Panginangan – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Panjang Balikat -

Panjarat Hati – ciptaan Hamka

Pantun Cinta – Cipt. Hamidhan

Pantun Papadah – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Paris Barantai – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Penari Gandut – cipt. Hamka

Pesta Pantai Pagatan – cipt. Hamka, voc. Meggy Z

Pucuk Pisang – Cipt. Hamiedan AC

Puhun Rambai – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Purunnya – Cipt. Syachruddin

Putri Junjung Buih – cipt. Hamka, voc. Meggy Z

R

Rabah Bangun – voc. Solid AG

Ranjang Wasi – cipt. Nanang Irwan

Rumah Banjar – cipt. Rustam R

Raja Egal – cipt. Hamka,voc. Arif Maulana

Rosalinda – voc. Solid AG

S

Sabarai-sabarai – (lagu Kaltim)

Salbiah – Cipt. Arina Group

Samagin Baliur -

Sambal Raman – Cipt. H. A.A.

Sangu Batulak – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Sapu Tangan Babuncu Ampat – Cipt. Zaini / Taboneo Group

Sanja Kuning – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Saruan Sakampung – voc. Astiyan

Sarung Samarinda – Cipt. H. Anang Ardiansyah

Siapa Ampun Larangan – Cipt. H. Anang Ardiansyah voc. Sam Chandra

Sisigan Sungai – Cipt. Syarifuddin, MS

Sisip – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Sirih Kuning – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Sudah Taparukui- cipt. Yusni Badaruddin / Doddy

Sungai Martapura – Cipt. Syarifudin, MS

Suanang – Cipt. Arina Group

T

Takajut Rami – Cipt. Nanang Irwan

Talambat Badatang – Cipt. Syarifuddin, MS

Talanjur – Cipt. Syarifuddin, MS / Sanderi

Tali Wasi – Cipt. NN

Tanda Babakti – Cipt. Nanang Irwan

Tapin Wisata – Cipt. Listiadi

Tarminah – Cipt. Hamidan Asli

Tari Bagandang – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Tarimakasih – Cipt. Mas’ud

Tatangis – Cipt. Hamiedan AC

Taungut – Cipt. Musik Panting Cempaka Putih

Tirik Lalan -

U

Ujar pang kada bamasak -

Uma Abah -

Umpat Bis Bintang Mas – cipt. Anang ardiansyah

W

Watas Penantian – voc. Astiyan

Y

Yun Apan Yun Nana – Cipt. Hamiedan AC

Rumah Banjar

Definisi

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar.

Jenis-jenis Rumah Adat Banjar

Jenis- jenis rumah adat Banjar

Rumah Bubungan Tinggi

Rumah Gajah Baliku

Rumah Gajah Manyusu

Rumah Balai Laki

Rumah Balai Bini

Rumah Palimbangan

Rumah Palimasan (Rumah Gajah)

Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)

Rumah Tadah Alas

Rumah Lanting

Rumah Joglo Gudang

Rumah Bangun Gudang

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN RUMAH ADAT BANJAR

Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º.

Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.

Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596 – 1620.

Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.

Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.

Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tampak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.

Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.

Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.

Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.

Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.

Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang.

Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.

Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung.

Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.

Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai.

Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah.

Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.

Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama.

Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.

Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Akan tetapi sekarang dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi.

Sejak tahun 1930-an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.

Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.

Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman.

Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang.

Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930.

Untuk daerah Kalimantan Selatan masih dapat dijumpai beberapa rumah adat Banjar yang sudah sangat tua umurnya seperti di Desa Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut (Kota Banjarmasin), Desa Teluk Selong, Desa Dalam Pagar (Martapura), Desa Tibung, Desa Gambah (Kandangan), Desa Birayang (Barabai), dan di Negara.

Masing-masing rumah adat tersebut sudah dalam kondisi yang amat memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali.

Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut karena alasan-alasan tertentu , seperti malu atau gengsi. Karena merasa dianggap tidak mampu merawat rumahnya sendiri.

Bagaimanapun keadaan rumah-rumah tersebut, dari sisa-sisa yang masih bisa dijumpai dapat dibayangkan bagaimana artistiknya bangunan tersebut yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.

(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)

KONSTRUKSI RUMAH ADAT BANJAR

Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.

Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.

Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu : a. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk. b. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung. c. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi. d. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit. (yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan).

Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.

Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :

1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.

2. Panampik Kacil, yaitu ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui lawang hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

3. Panampik Tangah yaitu ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.

4. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.

5. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.

6. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.

7. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal.

Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.

Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil.

Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.

Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter.

Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

(Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, 1983/1984)

Tata Ruang dan Kelengkapan Rumah Tradisonal Banjar

TATA RUANG DAN KELENGKAPAN RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI

Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.

Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi menjadi surambi muka dan surambi sambutan.

Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.

Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu (dapur).

Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan kelengkapannya;

Surambi

Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.


Pamedangan

Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.

Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)

Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung, pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan tarumpah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.

Paluaran (Panampik Basar)

Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan Paledangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas, parapen, rehal.

Paledangan (Panampik Panangah)

Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa – Anjung Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap, kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.

Anjung Kanan – Anjung Kiwa

Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.

Padu (dapur)

Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit dan ayunan anak.

Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti.

Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.

Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.

(Museum Lambung Mangkurat – Banjarbaru, “Rumah Tradisonal Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)

Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar

BAGIAN DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL BUBUNGAN TINGGI

 

Pondasi, Tiang dan Tongkat

Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.

Kerangka

Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah : 1. susuk dibuat dari kayu Ulin.

2. Gelagar dibuat dari kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.

3. Lantai dari papan Ulin setebal 3 cm.

4. Watun Barasuk dari balokan Ulin.

5. Turus Tawing dari kayu Damar.

6. Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin.

7. Balabad dari balokan kayu Damar Putih. Mbr> 8. Titian Tikus dari balokan kayu Damar Putih.

9. Bujuran Sampiran dan Gorden dari balokan Ulin atau Damar Putih.

10. Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.

11. Kasau dari balokan Ulin atau Damar Putih.

12. Riing dari bilah-bilah kayu Damar putih.

Lantai

Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.

Dinding

Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.

Atap

Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.

Ornamentasi (Ukiran)

Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi.

(Museum Lambung Mangkurat – Banjarbaru, “Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)

[sunting]

CARA MENENTUKAN UKURAN RUMAH ADAT BANJAR

Menurut Brotomoeljono (1986 : 87);

A. Panjang dan lebar rumah ditentukan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil.

B. Dihitung dengan mengambil gelagar pilihan, kemudian dihitungkan dengan perhitungan gelagar, geligir, gelugur.

Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga harus ditutup dengan gelagar.

Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan.

(Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87) Cara lain menurut Alfani Daud, MA. (1997 : 462);

Ukuran panjang dan lebar rumah dilambangkan delapan ukuran lambang binatang yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak.

Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah.

Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing, keledai, atau gagak.

(Jumlah) panjang depa seseorang yang membangun rumah dibagi delapan mewakili binatang berturut-turut seperti tersebut terdahulu.

(Tiap depa dikalikan 12)

Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi.

Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa.

(Alfani Daud, MA, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997 : 462)

[sunting]

FILOSOFI RUMAH BUBUNGAN TINGGI

Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.

Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.

Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah.

Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).

(Siswono Yudohusodo)

Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di propinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain. Bahasa Banjar dihipotesakan sebagai bahasa proto Malayik, seperti halnya bahasa Minangkabau dan bahasa Serawai (Bengkulu).

Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur,juga digunakan di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, dimana bahasa ini dipakai sebagai bahasa penghubung antar suku.

Bahasa banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.

Bahasa Banjar terdiri atas dua kelompok dialek yaitu;

Bahasa Banjar Hulu

Bahasa Banjar Kuala

Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa-bahasa di Kalimantan lainnya.

Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Maanyan

warik (Banjar), warik (Dayak Maanyan), varika (Merina-Madagaskar); artinya monyet.

bamban (Banjar), wamban (Dayak Maanyan), bumban (Dayak Siang Murung); artinya nama sejenis tanaman.

Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai

lumbah (Banjar), lombah (Dayak Ngaju); artinya luas

umpat (Banjar), umba (Dayak Bakumpai); artinya ikut

busu (Banjar), busu (Dayak Ngaju); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).

aray (Banjar Hulu), aray (Dayak Bakumpai); artinya senang

babaya (Banjar), babaya (Dayak Bakumpai); artinya hampir

diang (Banjar Hulu), diang (Dayak Bakumpai); artinya anak dara

Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Bukit

aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan

ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar

bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari

Bahasa Banjar vs Bahasa Kutai

busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).

umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut

kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa

kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti

inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia

sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau

muntung (Banjar), moncong (Kutai); artinya mulut

Perbandingan Bahasa Banjar dengan Bahasa Jawa

hanyar (Banjar), anyar (Jawa); artinya baru

lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama

habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah

hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam

halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap

halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah

banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air

sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)

an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)

picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta

sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya

licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek

baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari

kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri

rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor

kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang

padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras

dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan

iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan

awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan

ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa

ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi

ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus) untuk Dewa

jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan

kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna

tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik

lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau

reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung

kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya

ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah

gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher

kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal

kawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya lambai

ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama

paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya…(contoh pernah mantu)

parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat

Tari Banjar

Definisi

Tari Banjar adalah seni tari yang dikembangkan oleh suku Banjar, baik berupa tari klasik maupun tari tradisional.

Jenis-jenis Tari Banjar

Tari klasik

Tari tradisonal

Bagandut

Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera.

Baksa Dadap

Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar.

Baksa Kembang

Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita.

Baksa Lilin

Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan membawa lilin.

Baksa Panah

Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan memanah.

Baksa Tameng

Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan tameng (perisai).

Balatik

Latik artinya tunas, balatik artinya bertunas. Tarian ini menggambarkan tumbuhnya tunas-tunas muda seniman tari Banjar.

Baleha

Merupakan jenis tari berpasangan

Batarasulan

Merupakan jenis tari berpasangan

Bogam

Bogam adalah rangkaian bunga mawar dan melati. Tarian ini merupakan tari selamat datang dengan mempersembahkan kembang bogam kepada para tamu.

Dara Manginang

Tarian ini menggambarkan anak dara yang sedang menginang.

Garah Rahwana

Tarian yang menggambarkan sifat antagonis tokoh Rahwana dalam wayang Banjar.

Hantak Sisit

Merupakan jenis tari berpasangan.

Hanoman

Tarian yang menggambarkan tokoh Hanoman pada cerita Ramayana dalam wayang Banjar.

Japin Batuah

Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu, semua penari adalah wanita.

Japin Bujang Marindu

Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.

Japin Dua Saudara

Tarian yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan budaya Melayu.

Japin Hadrah

Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang mengangkat kesenian Hadrah ke dalam gerak tari yang dinamis, semua penari adalah wanita.

Japin Pasanggrahan

Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dengan semua penarinya adalah wanita.

Japin Rantauan

Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam

Japin Sisit

Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam

Kuda Gepang

Tari prajurit berkuda (kavaleri), merupakan pengaruh budaya Jawa.

Ladon

Ladon merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki.

Ning Tak Ning Gung

Merupakan tari dolanan anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain.

Paris Tangkawang

Merupakan jenis tari berpasangan

Radap Rahayu

Merupakan tari klasik Banjar dalam menyambut tamu agung dan ditarikan dalam upacara perkawinan, para penarinya adalah wanita.

Rudat

Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi duduk.

Sinoman Hadrah

Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi berdiri.

Tameng Cakrawati

Tari yang menggambarkan seorang isteri (Cakrawati) yang melanjutkan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda.

Tirik Lalan

Merupakan jenis tari tradisional berpasangan

Topeng Kelana

Merupakan jenis tari topeng dengan tokoh Kelana, tari ini merupakan pengaruh budaya Jawa.

Topeng Wayang

Merupakan jenis tari berpasangan

Peribahasa Banjar

HURUF K

kabanyakan

Kabanyakan guring awak kurus karing

Kabanyakan rangka, habis kada sahama-hama

kacil

Kacil mulik sasak di lawang

kada

Kada ada buriniknya

Kada ada kukus amun kada ada api

Kada ada nang dikutil-kutil

Kada ada urang nang bajual di pasar

Kada ada urat tulangnya

Kada bahabu dapur

Kada balampu

Kada baliur

Kada batanah sajari-jari

Kada batanam nyiur

Kada ingat burit kapala

Kada jadi baras

Kada karing gigi

Kada kauluran

Kada kaya paku lantak di papan

Kada kawa dikulai

Kada kulih kiwa kanan

Kada mamak dijarang

Kada mambadai lawan kaluung

Kada mambuang taruh

Kada mau balabih urat tulang

Kada mayu parutnya

Kada mayu tangannya

Kada kaya mamamah lumbuk balalu padas

Kada paparakan hujung kukunya

Kada purun tikus, matan purun banar

Kada tacampur minyak lawan banyu

Kada tadangar garacak piring

Kada takulihi mintuha lalu

Kada titik banyu diganggam

Kada wayah dipawayah

kajam

Kajam pada Japang

kalawasan

Kalawasan mahadang, imbah Ahad, Ahad pulang

Kalimbuai pusing kiwa

Kalibatan tali gasing

Kaminting pidakan

Kana gatahnya haja

Kaning kaya ditulis

Kantutnya gin sumbang

Kantut samut

Kapala bapa ikam

Kapala manyuruk buntut mahambat

Kapala sama babulu, otak lain-lain

Karas-karas karak, limbah dibanyui lamah jua

Karing pada kalaras

Kasasahangan

Katahuan habang hirangnya

Kawa dicaramini

Kaya api dikubui banyu

Kaya api dikubui minyak

Kaya bisul maangkut nanah

Kaya bubut lawan kasisikat

Kaya Bukit turun ka kuta

Kaya baburak kalingaian

Kaya cacing kapanasan

Kaya cacing panggal

Kaya Cina kakaraman

Kaya Cina kahilangan dacing

Kaya daun tarap gugur parapas-parapas

Kaya Dayuhan lawan Itingan

Kaya gadang buruk

Kaya hantu Barabiaban

Kaya hayam jagaunya

Kaya hayam saungan

Kaya ingkul Inggris

Kaya iwak kana tuba

Kaya kalayangan pagat

Kaya karacak ayam

Kaya kucing malihat tikus

Kaya kucing marau

Kaya latupan cabi

Kaya maling kasiangan

Kaya mancabut kasusuban

Kaya manimbai batu ka banyu

Kaya manjuhut rambut di galapung

Kaya muak kucing

Kaya pinang dibalah dua

Kaya punai kakanyangan

Kaya siput dipais

Kaya tandui dilumu

Kaya tikus kahujanan

Kaya tiwadak dihantak

Kaya ular baganti salumur

Kaya urang imbah baranak

Kaya urang kalah pamainan

Kaya urang kasarungan

Kaya warik tagapit dahan

Kaya warik tajun ka kacang

Kikik-kikik burung maling

Kilat dalam banyu gin pinandu

Kuduk kada mati ular kada kanyang

Kudung hanyar hanyar bautas

Kujub-kujub kaya mata bidawang

Kula-kula buhaya

Kukulilik di luang satu

Kulik-kulik bunyi halang

Kulimbit mati

Kulu sipatin

Kumpai mangalahakan banua

Kurihing simpak

Kur sumangat, hilang panyakitnya

Kuriding patah

Kurang hantak kurang surung

HURUF L

Lagu nang kaya pingkalung sangkut

Lain danau lain iwaknya

Lain nang disurung lain nang dikalang

Laju pada trak

Lalat mancari kudis

Lamah bulu

Lamah limbai

Lamak mungkal kaya iwak lampan

Lambat mambalik talapak tangan

Lambat mambanam kapas

Lamun dirandam ka sungai mauk saluang

Lamun garing, awu mantah gin kada tamakan

Lamun kawan naik jangan dipiruhuti

Langkang pipi amun tatawa

Lancar bapandir bahira maucir

Lapah manggutak

Lapas di muntung harimau, masuk ka muntung buhaya

Lindung kucing baduduk

Lingis kaya dijilat naga

Liur baungan

Luka kana bidingnya

HURUF M

Mahadang buah bungur

Mahambat kalaras karing

Maitung kasau di bubungan

Makin tuha makin baminyak

Malatui kana dahi

Malingus di hadapan mintuha

Mamasang kulah di karing

Mambawa bala ka rumah

Mambawa jari sapuluh

Mamuji pakasam saurang

Mana manyatang, mana manyatupur

Mananam haur tumbuh batung

Manangguk di banyu karuh

Manapak banyu di apar

Manapak muha saurang

Manapas muha mintuha

Manarik paring matan di hujung

Manangis kada babanyu mata

Mancaluk padaringan urang

Mancari suluh tajajak hundayang

Mancari bagandang nyiru

Manis mangurung madu

Manimpasakan parang urang

Manggaru kapala nang kada gatal

Manyambung puntung handap

Manjilat ludah dilantai

Manurutakan kahandak kada ada habisnya

Mata kaya mata maling

Muha kaya gambar

Muha kaya panai

HURUF N

Naik di kapuk turun di hanau

Naik di pinang turun di hanau

Nangapa ujar sidin haja, manurut maka kada

Nang kaya burung, imbah kanyang tarabang

Nang kaya apa sakira nyaman

Nang manis jangan lakas ditaguk, nang pahit jangan lakas diluak

Nang sakilan jadi sadapa

Nasi sabigi satahun hanyar ada

Nasi sabigi gin kada tataguk

Ngalih mambuang batu di palatar

HURUF P

Paaliran disambar buhaya

Pahabisan burung babunyi

Paku mahadang tukul

Panas-panas tahi hayam

Pamali duduk di watun

Pandir kaya buak

Pantas haja ari pina sahujan-hujan

Pina paiyanya, imbah tapadupak pandahuluannya bukah

Pisang kada babuah dua kali

Pitung Rajab mahadang

HURUF R

Raja bigi kapuk

Rambut kaya mayang maurai

Rambut kaya sagar hanau

Rusak mulai di rapun

HURUF S

Saatiril

Sabuku gunung, saikung dangsanak

Sagantang dua gantang

Sahibar umpat bapandir

Saikung-ikung kada mawadi

Saikung hadangan bakuang, samunyaan kada lucaknya

Sajampal tiga suku

Sakahandak mambalang, mintuha bajual kasumba

Sakurang-kurang buhaya, banyu nang malamasakan

Salapik sakaguringan, sabantal sakalang hulu

Sandu-sandu bakut, amun maluncat limpua hampang

Sangkut di gigi, kada ka parut

Sapuluh kali batang batindih, bilungka jua nang rimiknya

Satabul nang kada diganang

Satali tiga uang

Satu karja dua gawi

Siang bapanas, malam baambun

Siapa manabuk luang, inya saurang nang tabarusuk

Sasingut mahulu pisau

Suara kaya bunyi burung bubut

Sudah bahatap sing

Sudah banyak makan uyah

Sudah tamakan tarasai

Sudah tamulai basah

Sukuram datang siang,jaka malam basuluh

Surung kiwa, sambut kanan

HURUF T

Taambil kaminting gumpa

Tabang nani rabah ka natu, tabang natu rabah ka nani

Tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual

Tabawa bkul buntus

Tabuati jukung miris

Tacalubuk ka padang licak

Taduduki bara api

Tagatuk sarang kararawai

Tahadapi nasi tambah

Tahalang tabujur disurung sidin haja

Tahan mamanasi kulit

Tahuai inya pintar, tagal kami kada katuju

Tahi mata kaya tungku dapur

Takacak bara api

Takana daging saurang

Takujihing muntung sidin

Takujingat hidung sidin

Takurihing sampai ka talinga

Takurung balak anam

Talangkahi dangsanak tuha

Talalu harp tatiharap

Talalu pilih, tapilih bangkung

Talalu puji takujiji

Talalu runding takujihing

Talinga kaya kijing

Talinga rinjingan

Tali salawar tajarat mati

Tamakan daging kulanya

Tamakan pangalih kawan

Tampulu jadi raja

Tanah kada rata

Tanggiling maunduh paring, disambat ngaran gugur mandabuk

Tapakai kacamata kaur

Tapalit tahi babau

Tapuruk salawar handapku

Tapuruk salawar mintuha

Taranjah garubak bagana

Tasisit bigi palir

Tatajun ka sumur karing

Tatukui lukah puang

Timbul tinggalam kulabuni

Tinggali ular nang tadudi

Tumbuh kapuk di bantal

Tumit kaya hintalu dibasuh

Tungau di subarang kalihatan, gajah di dahi talindung

Tunggul gin amun dipupuri bungas

Turun hayam naik hayam

HURUF U

umpat

Umpat di batang timbul

Umpat mambuat baras

Umpat nang manang

untung

Untung kada picak

upung

Upung mamadahi mayang

urang

Urang mangantuk disurungi bantal

Urang manyurung tungkat, inya manyurung galagar

Urang-urangnya makan sabun

Urang tuha jangan diulah papainan

HURUF W

wadai

Wadai Dua Kali Sakit

Wadai Sasangga Laung

Wadai Tupi Waja

waja

Waja Sampai ka Puting

wajik

Wajik Tu, Baiwak La Ngul

waluh

Waluh Bajarang

wani

Wani Manimbai Wani Manajuni

wastu

Wastu Sabutingannya

(Sumber: Drs. Syamsiar Seman dan H. Ahmad Makkie, Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Banjar, Jilid 2 huruf K – W, oleh Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 1998)

[sunting]

PERIBAHASA DAN UNGKAPAN BANJAR LAINNYA

Awak asa ripu

Kada kalah tadah

Kaya saluang mudik

Kaya kalimpanan

Kupiah haja putih

Takatil

Urang nang badahi

Wani Hangit

Ngalih mambuang batu di palatar ngalih maubah laku nang sudah mandasar

[sunting]

KARAKTERISTIK BENTUK, FUNGSI, MAKNA DAN NILAI PERIBAHASA BANJAR

Budayawan Kalimantan Selatan yaitu Tajuddin Noor Gani, SPd, MPd, telah mengarang sebuah buku berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar. Dalam buku setebal 395 halaman tersebut, beliau memaparkan tentang karakteristik bentuk, fungsi, nilai dan makna atas 165 buah peribahasa banjar yang sudah dikenal di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Karya beliau ini merupakan kepedulian terhadap salah satu kekayaan lokal genius etnis Banjar.

Beberapa peribahasa yang dikumpulkan oleh Tajudin Noor Gani, antara lain :

Ada kada malabihi, kada ada kada mangurangi.

(Maksudnya : seseorang yang keberadaannya tidak mempunyai arti apa-apa)

Adat urang main, ada kalah ada manang.

(Maksudnya : kalah dan menang dalam suatu permainan adalah biasa)

Allahu wahdah; Inya mambari kada bawadah, Inya maambil kada bapadah.

(Maksudnya : Allah memberi tanpa batas dan Dia mengambil kembali tanpa harus bicara)

KALIMANTAN SELATAN

Geografis

Letak Geografis

Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 Km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2003 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.

Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Secara rinci luas wilayah dan batas wilayah serta panjang garis pantai dapat dilihat pada tabel 1

Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan.

Seni dan Budaya

Musik, teater tradisional dan wayang

Musik Panting

Musik Kurung Kurung

Mamanda (teater tradisional)

Wayang Kulit Banjar

Wayang Gong (wayang orang)


Responses

  1. yohohoho, bagus buat referensi ntar kapan2 kalo ada tugas tentang kebudayaan banjar… :D

  2. adalah tentang hubungan kerajaan banjar dgn kotawaringin?

  3. wow, salam kenal mas

  4. maaf baru buka blognya nih, soalnya sedikit gaptek bapak-bapk….. mohon dimaafkan!
    terima kasih atas kunjungannya, moga2 kita bisa sharring terus…..
    maaf kalau tulisannya terkesan nyeleneh, mungkin karena masih berjiwa muda “emosinya masih labil”

  5. Jambannya mana dur?

  6. bagus banget pa….

  7. umpat bailang..lah

    • Inggih pun pak wajidi, ulun jua umpat baelang ka blog pian nah.. (^_^) asa parak kampung mun sdh batamu lwn urg sabanua nih, jd dandaman jar urang biasanya wan kampung hehehe

  8. Mantappp … Tp hdk mengkoreksi dikit nah
    aray (banjar) = pamer
    Contoh : handak ba’aray = mau pamer
    Sori ae mun tasalah …

    • Terima kasih Hil lah atas koreksinya, aku gin kebetulan kd tp mengerti bahasa banjar yang jarang dipakai kayatu tuh hehehe..(^_^)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: