Posted by: M. Rudi Januar | December 6, 2008

maaf kami tdk pesan kopi susu, atau coklat, dkk

lumpur2

Seperti kebiasaan setiap harinya, aku bangun tidur, mandi, makan, dan bikin secangkir KOPI SUSU sebagai teman membaca surat kabar harian di rumahku atau bahkan untuk menghilangkan sedikit rasa ngantuk yang masih tersisa. Kebetulan saat itu aku lg asyik baca kolom blogger (www.kayuhbaimbai.org) mengenai keluh kesah salah seorang blogger (http://syamsuddin-ideris.blogspot.com) tentang kondisi jalan didaerahnya. Tokoh dalam cerita itu adalah seorang pendidik (judul postingan “Oemar Bakrie di Garis Depan”) yang setiap harinya berangkat kerja harus melewati jalan yang konon katanya seperti “Adonan” hehehehe…… Setelah selesai membaca postingan, aku meneruskan membaca pada kolom komentar, dan baru sampai pada komentar dari http://pakacil.net, istriku teriak cukup keras seperti halnya orang yang lagi liat hantu atau tumpukan duit trilliunan rupiah bahkan….. (tapi biasanya kalau orang liat tumpukan duit kebanyakkan DIAM2 AJA YAH…???. kalau begitu pas liat hantu aja deh. Red). Pada saat itu kan aku ingat istriku lg mandi, kok bisa2nya dia teriak sangat kencang (apa udah takut mandi yah…???). setelah aku samperin Dia dengan penuh bertanya-tanya, ternyataaaaaaaaaaaa…….!!!! air di bak mandi rumahku yang tadinya “CUKUP” bening ternyata berubah menjadi “COKLAT SUSU PEKAT”. Aku sih sebenarnya tidak begitu kaget dengan hal itu, tapi kebetulan istriku asalnya bukan dari daerah (Banjarbaru. Red) sini, yah maklum saja dia kaget liat air yang warnanya seperti itu (kalau sungai mungkin dah biasa. Red). Permasalahan lain timbul lantaran Dia belum selesai bilas, dan sekujur badannya masih penuh dengan busa. Mau diterusin bilas dengan menggunakan air tadi yang sudah berubah warna hasil “SULAP” atau mungkin juga hanya sekedar “FENOMENA ALAM” yah jadi agak malas bahkan traumatis untuk Dia, karena kebetulan dua minggu yang lalu Dia baru saja mengalami alergi pada kedua telapak tangan dan kakinya (mungkin akibat campuran KOPI, SUSU, atau COKLAT yang digunakan tersebut sudah kadaluarsa atau bahkan mengandung formalin jangan2…???). Alhamdulillah untungnya dirumahku masih ada sumur yang dapat diambil airnya, jadinya bisa deh selesain mandinya. Sembari menyiapkan tempat untuk menampung air dari sumur dengan menggunakan ember dan baskom yang sebenarnya digunakan untuk keperluan cuci pakaian (sori Mi, terpaksa) sehari-harinya, aku mencoba berkelakar untuk sekedar menghibur istriku yang kebetulan sedang mengalami homesick berat saat ini. Aku menceritakan kalau hal itu adalah sepele. Aku bilang, jangankan air untuk mandi yang kita bayar tiap bulannya itu yang berwarna COKLAT, tapi disini pantainya pun juga dikasih KOPI, SUSU atau COKLAT juga hehehehe…….!@#%$%^$%*&. Kira-kira kalau kita kasih gula rasanya seperti apa yah…??? rasa KOPI SUSU atau COKLAT…??? enaknya sih mungkin simple aja karena tinggal ambil air di bak mandi terus dipanasin sedikit baru ditambahkan gula tanpa susah payah menambahkan KOPI, SUSU, atau COKLAT lagi yang dibeli dengan jalan kaki beberapa ratus meter di warung sebelah hehehhee………!!!

Aku sedikit protes juga pada waktu itu, karena aku harus nguras bak mandi dan mengisinya lagi dengan air yang “CUKUP’ bening nantinya, itupun aku diharuskan bersabar menunggu airnya berubah warna kembali entah sampai kapan hehehe….. dan juga kami sekeluarga terus terang “TIDAK SUKA” pakai air yang seperti itu untuk mandi, takut lengket atau bahkan bisa2 malah digerayangi semut (bukan bermaksud “SOMBONG”. Red). Sepengetahuan saya, selama ini kami tidak pernah mengajukan permohonan kepada pihak PeDeAeM didaerahku untuk menambah semacam fasilitas tambahan seperti campuran KOPI, SUSU, atau COKLAT, dkk kedalam air yang akan disalurkan kerumah kami. Kami “CUKUP” bisa minum dan mandi dengan “AIR TIDAK BERWARNA” saja itu sudah sangat menyehatkan bagi kami. Padahal kami sekeluarga juga “TIDAK SUKA” minum KOPI, SUSU, atau COKLAT, dkk (dalam kasus ini. Red) hehehehe……

MAAF SEKALI LAGI KAMI TIDAK PESAN YA PAK, BU, OM, dan TANTE yang di PeDe aEm……!!!

Komentar untuk http://syamsuddin-ideris.blogspot.com :

Mungkin nasib kita hampir sama Pak, kami juga mengalami hal yang cukup menyedihkan. JANGANKAN UNTUK JALAN, MANDI SAJA KAMI SUSAH. Bagaimana mungkin mau keluar jalan kalau tidak mandi (mungkin saja sih. Red), tapi kalau tidak GOSOK GIGI gimana dong…??? untungnya saya pengangguran nih saat ini, jadi tidak perlu keluar2 rumah dulu dan yang tau cuma Allah SWT, kami sekeluarga, dan teman2 yang baca postingan ini (syuuutzzz jgn bilang2 yah…….!!!)

Posted by: M. Rudi Januar | January 25, 2008

Suku Banjar Dan Ragam Budayanya

Suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kotabaru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi. Read More…

Posted by: M. Rudi Januar | June 18, 2007

What’s wrong with this nation?

Oleh: M. Rudi Januar[1] Tanggal 16 Agustus yang lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan nota keuangan RAPBN 2007. Pidato Kenegaraan yang belakangan kontroversi seputar angka kemiskinan yang dinilai banyak pihak sebagai upaya pembohongan terhadap publik. Ada yang luput dari sorotan publik, yakni pemenuhan anggaran pendidikan minimal duapuluh persen sebagaimana diamanatkan Konstitusi [Pasal 31 Ayat (4)]. Dalam Nota RAPBN 2007 anggaran pendidikan hanya dianggarkan sebesar 53 Triliyun (Kompas,23/8) atau sekitar sepuluh persen belanja negara. Mau dibawa kemana bangsa ini, jika konstitusinya tidak hendak dipatuhi oleh para pemimpinnya. What’s wrong with this nation? Read More…

Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menjalankan profesinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi juga harus mampu menanamkan suatu nilai – nilai pendidikan dengan guru sebagai modelnya.
Dalam menjalankan profesinya, seorang guru harus melakukan dua fungsi sekaligus yaitu; fungsinya secara moral yang mana ia diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dan juga menjalankan fungsi kedinasannya yaitu mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Read More…

Categories